Fakta Nasional

Tagihan Listrik Makin Menanjak, Rumah Tangga AS Tercekik Beban Energi

EKONOMI, FAKTANASIONAL.NET - Kenaikan tarif listrik di Amerika Serikat dalam setahun terakhir melampaui laju inflasi umum. Berdasarkan Indeks Harga Konsumen (CPI) Mei 2025, tarif listrik naik 4,5% year-on-year, nyaris dua kali lipat inflasi keseluru…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Aditya Editor: Redaksi 📍 Nasional Monday, 23 June 2025 📖 1 menit
Tagihan Listrik Makin Menanjak, Rumah Tangga AS Tercekik Beban Energi
Tarif Listrik/(ilustrasi/@pixabay)
) -->

EKONOMI, FAKTANASIONAL.NET - Kenaikan tarif listrik di Amerika Serikat dalam setahun terakhir melampaui laju inflasi umum.

Berdasarkan Indeks Harga Konsumen (CPI) Mei 2025, tarif listrik naik 4,5% year-on-year, nyaris dua kali lipat inflasi keseluruhan.

Badan Informasi Energi AS (EIA) memproyeksikan kenaikan ini akan berlanjut hingga 2026, mengingat penonaktifan pembangkit lama berjalan cepat sementara kapasitas baru terkendala investasi.

Menurut David Hill, Wakil Presiden Eksekutif Energi di Bipartisan Policy Center, penawaran terbatas dan permintaan melejit menyebabkan harga listrik melonjak.

Sejak 2022, pembangkit tua ditutup lebih cepat daripada pembukaan pembangkit baru, sementara tren elektrifikasi—dari kendaraan listrik hingga perangkat pintar—mendorong konsumsi rumah tangga semakin tinggi.

Rata-rata harga listrik nasional mencapai Rp 2.720 per kWh pada Maret 2025, namun berbeda jauh antara negara bagian.

North Dakota mencatat terendah di Rp 1.760 per kWh, sedangkan Hawaii termahal di Rp 6.560 per kWh.

Di kawasan Pasifik, EIA memproyeksikan kenaikan tarif hingga 26% dari 2022–2025, yang berarti tarif bisa menembus Rp 3.360 per kWh. Sebaliknya, wilayah Barat Utara Tengah hanya naik sekitar 8%.

Kenaikan ini berdampak langsung pada anggaran rumah tangga. Pada 2023, rata-rata rumah tangga AS menghabiskan sekitar Rp 28,1 juta untuk listrik; jika tren berlanjut, angka itu diperkirakan melonjak menjadi Rp 30,4 juta pada 2025.

Beban tambahan Rp 3,5 juta dibanding 2022 menjadi tantangan serius, terutama bagi keluarga berpenghasilan rendah.

Para ahli menyoroti pentingnya diversifikasi sumber energi dan percepatan pembangunan pembangkit baru—termasuk energi terbarukan—untuk meredam lonjakan harga.

Selain itu, upaya efisiensi energi di tingkat rumah tangga dapat membantu mengurangi beban tagihan.

Tanpa langkah strategis, beban listrik yang kian membengkak akan terus menjadi tekanan bagi ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.[dit]


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK