Fakta Nasional

Tahan Banting! Ekonomi RI Tumbuh 5,61% di Tengah Gempuran Geopolitik 2026

FAKTANASIONAL.NET - Merujuk pada publikasi CNBC Indonesia, awan mendung ketidakpastian geopolitik global yang diprediksi masih membayangi pasar sepanjang tahun 2026 nyatanya belum mampu menggoyahkan ketangguhan ekonomi domestik. Indonesia membuktika…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Aditya Editor: Redaksi 📍 Nasional Sunday, 24 May 2026 📖 1 menit
Tahan Banting! Ekonomi RI Tumbuh 5,61% di Tengah Gempuran Geopolitik 2026
Saham/(ilustrasi/@pixabay)

FAKTANASIONAL.NET - Merujuk pada publikasi CNBC Indonesia, awan mendung ketidakpastian geopolitik global yang diprediksi masih membayangi pasar sepanjang tahun 2026 nyatanya belum mampu menggoyahkan ketangguhan ekonomi domestik.

Indonesia membuktikan resiliensi fundamentalnya dengan mencetak angka pertumbuhan impresif sebesar 5,61% pada kuartal pertama.

Pencapaian ini tidak lepas dari kinerja perbankan yang ekspansif, dibuktikan lewat laju kredit yang nyaris menyentuh dua digit di angka 9,98%, serta pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang melesat hingga 11,4%.

Merespons tren ini, Bank Indonesia (BI) terus mematangkan instrumen makroprudensial yang akomodatif guna menjaga ritme ekspansi di era suku bunga tinggi.

Pejabat Eksekutif Departemen Kebijakan Makroprudensial BI, Dhaha P. Kuantan, memberikan analogi menarik tentang arsitektur kebijakan ini yang menyerupai sistem tata kelola bendungan air.

Menurutnya, Giro Wajib Minimum (GWM) adalah bendungan utama tempat likuiditas ditahan. Melalui Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM), air tersebut dialirkan kembali ke sektor strategis. "Likuiditas ini boleh disalurkan kembali asalkan dialokasikan secara presisi ke sektor-sektor pengungkit yang memiliki dampak multiplier besar," tegas Dhaha.

Tercatat, hingga kuartal ini, suntikan likuiditas lewat KLM telah mencapai Rp424 triliun, atau setara 4,76% dari total DPK nasional. Langkah ini menyusul keputusan BI menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin pada Rabu, 20 Mei 2026, dengan menambah tiga jalur insentif baru

Dalam menjaga fleksibilitas perbankan, BI kini juga menggeser indikator ukur kapasitas intermediasi dari Loan to Deposit Ratio (LDR) yang dinilai kaku, menuju Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM).

Formulasi RIM yang mengintegrasikan Surat Berharga (SSB) memberi napas segar bagi eksekutif bank dalam mengelola neraca mereka secara lebih modern. Namun, melimpahnya pasokan likuiditas tentu butuh serapan yang maksimal.

Oleh karena itu, BI meluncurkan inisiatif Percepatan Intermediasi Indonesia (PINISI) untuk mengatasi hambatan pada proyek-proyek strategis. Sinergi antara ketersediaan dana segar dari perbankan dan inovasi proyek sektor riil yang bankable kini menjadi kunci utama penggerak roda ekonomi tanah air di masa depan.[dit]


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK