Fakta Nasional

Tekanan Pendapatan: Rugi Bersih Garuda (GIAA) Membengkak 39,3% di Kuartal III 2025

JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) melaporkan kinerja keuangan yang masih tertekan hingga kuartal III tahun 2025. Maskapai penerbangan pelat merah ini mencatat rugi periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Aditya Editor: Redaksi 📍 Nasional Saturday, 01 November 2025 📖 2 menit
Tekanan Pendapatan: Rugi Bersih Garuda (GIAA) Membengkak 39,3% di Kuartal III 2025
Tekanan Pendapatan: Rugi Bersih Garuda (GIAA) Membengkak 39,3% di Kuartal III 2025/(pixabay)
) -->

JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) melaporkan kinerja keuangan yang masih tertekan hingga kuartal III tahun 2025. Maskapai penerbangan pelat merah ini mencatat rugi periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 182,54 juta.

Angka kerugian ini setara dengan Rp 3,04 triliun (menggunakan asumsi kurs Rp 16.640 per dolar AS). Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya (yoy), angka kerugian ini menunjukkan pembengkakan sebesar 39,3%.

Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), salah satu pemicu utama kenaikan rugi ini adalah penurunan pendapatan usaha. Hingga akhir September 2025, pendapatan usaha GIAA turun menjadi US$ 2,39 miliar. Angka ini lebih rendah dibandingkan perolehan pada kuartal III 2024 yang tercatat sebesar US$ 2,56 miliar.

Rincian Pendapatan dan Beban Usaha

Jika dirinci, pendapatan usaha GIAA ditopang oleh tiga segmen. Pendapatan dari penerbangan berjadwal mengalami penurunan menjadi US$ 1,84 miliar. Sebaliknya, pendapatan dari penerbangan tidak berjadwal justru mencatat kenaikan menjadi US$ 299,5 juta. Sementara itu, pendapatan lainnya juga ikut turun menjadi US$ 245,8 juta.

Di sisi lain, GIAA sebenarnya berhasil menekan total beban usaha. Hingga kuartal III tahun ini, total beban usaha turun menjadi US$ 2,29 miliar dari periode sebelumnya yang mencapai US$ 2,38 miliar. Penurunan beban ini sayangnya belum cukup untuk mengimbangi penurunan pendapatan dan menahan kerugian.

Faktor Keuangan dan Posisi Aset

Terdapat beberapa faktor keuangan lain yang memengaruhi bottom line perusahaan. GIAA mencatat keuntungan dari selisih kurs bersih sebesar US$ 14,7 juta, berbalik positif dari yang sebelumnya rugi US$ 7,5 juta. Pendapatan keuangan juga naik menjadi US$ 18,1 juta.

Namun, GIAA masih menanggung beban keuangan yang sangat besar, mencapai US$ 372,8 juta. Kombinasi faktor-faktor ini membuat rugi sebelum pajak penghasilan membengkak menjadi US$ 211,7 juta, naik dari US$ 148,06 juta pada kuartal III 2024. Setelah dikurangi manfaat pajak penghasilan, rugi periode berjalan menjadi US$ 180,7 juta. Adapun total aset GIAA per akhir September 2025 tercatat naik tipis menjadi US$ 6,75 miliar.[dit]


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK