Fakta Nasional

Terungkap! Bupati Cianjur Naik Kereta Emas, Rakyat Menderita

FAKTANASIONAL.NET - Cianjur dikenal sebagai salah satu wilayah paling makmur di Pulau Jawa pada masa kolonial. Kemakmuran tersebut terutama ditopang oleh produksi kopi yang sangat besar, menjadikan daerah ini sebagai pusat ekonomi penting di kawasan…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Aditya Editor: Redaksi 📍 Nasional Sunday, 21 June 2026 📖 1 menit
Terungkap! Bupati Cianjur Naik Kereta Emas, Rakyat Menderita
Terungkap! Bupati Cianjur Naik Kereta Emas, Rakyat Menderita /(Foto: Ilustrasi/@pixabay)
) -->

FAKTANASIONAL.NET - Cianjur dikenal sebagai salah satu wilayah paling makmur di Pulau Jawa pada masa kolonial.

Kemakmuran tersebut terutama ditopang oleh produksi kopi yang sangat besar, menjadikan daerah ini sebagai pusat ekonomi penting di kawasan Priangan.

Dilansir dari CNBC, mengacu pada penelitian sejarawan Belanda Jan Breman dalam Keuntungan Kolonial dari Kerja Paksa: Sistem Perdagangan dari Tanam Paksa Kopi di Jawa 1720-1870 (2014), Cianjur menjadi produsen kopi terbesar di Priangan selama periode tanam paksa.

Bahkan pada 1806, produksi kopi dari wilayah tersebut tercatat mencapai sekitar 1,5 juta pikul.

Besarnya hasil perkebunan membuat para elite lokal menikmati keuntungan berlimpah.

Sejarawan Nina Herlina Lubis dalam Kehidupan Kaum Menak Priangan, 1800-1942 menjelaskan bahwa kalangan bupati menjadi kelompok sosial paling kaya berkat pemasukan dari gaji, pajak, dan berbagai hak istimewa feodal.

Di balik kemegahan tersebut, rakyat justru memikul beban berat. Sistem tanam paksa membuat petani bekerja keras menghasilkan kopi yang sebagian besar keuntungannya mengalir ke pemerintah kolonial dan elite daerah.

Jan Breman mencatat Bupati Cianjur saat itu dikenal memiliki gaya hidup sangat mewah.

Ia kerap bepergian menggunakan kereta berlapis emas dan membeli berbagai barang mahal. Saat melakukan perjalanan ke daerah lain, rombongannya yang besar juga menjadi beban bagi wilayah yang dikunjungi.

Kondisi itu turut disorot oleh Multatuli dalam novel Max Havelaar (1860).

Penulis asal Belanda tersebut menggambarkan bagaimana kunjungan Bupati Cianjur ke Lebak mengharuskan pemerintah setempat menanggung kebutuhan ratusan pengikut beserta kuda-kudanya.

Menurut Nina Herlina Lubis, fenomena tersebut lahir dari budaya kekuasaan yang menempatkan kabupaten sebagai panggung pertunjukan, sementara bupati menjadi tokoh utama yang wajib menunjukkan kemegahan.

Sejarah Cianjur pada akhirnya memperlihatkan ironi besar. Di satu sisi daerah menikmati kekayaan luar biasa dari kopi, tetapi di sisi lain rakyat yang menjadi tulang punggung produksi justru tidak ikut merasakan hasil kemakmuran tersebut.[dit]


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK