Fakta Nasional

Tidak Sanggup Merindu

SETELAH ritual pada subuh hari selesai, saya sudah terbiasa menulis. Entah sejak kapan kebiasaan itu tumbuh menjadi semacam hutang yang harus dibayar setiap pagi. Kalau hari ini saya tidak menulis, entah mengapa hari esok terasa seperti akan datang…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Aditya Editor: Redaksi 📍 Nasional Wednesday, 19 August 2026 📖 4 menit
Tidak Sanggup Merindu
Tidak Sanggup Merindu/(ilustrasi/@FKN)

SETELAH ritual pada subuh hari selesai, saya sudah terbiasa menulis. Entah sejak kapan kebiasaan itu tumbuh menjadi semacam hutang yang harus dibayar setiap pagi.

Kalau hari ini saya tidak menulis, entah mengapa hari esok terasa seperti akan datang membawa tagihan.

Bagi saya pagi hari bagaikan pintu, dia perlu dibuka.

Yah, begitulah.

Tetapi mohon maaf pagi ini tidak ada musik tentang Raja Koruptor atau segala macam irama yang membuat pikiran terasa seperti sedang berada di ruang sidang.

Pagi ini terputar lagu jiwang Malaysia.

Full album pula.

Agrh...

Maka lahirlah judul yang mungkin terdengar sedikit menyedihkan bagi orang yang mengenal saya: “Tidak Sanggup Merindu.”

Wk...

Jangan buru-buru menyimpulkan.

Sebab rindu adalah makhluk yang aneh. Ia tidak selalu datang karena seseorang pergi. Kadang ia datang justru karena seseorang terlalu dekat di dalam ingatan.

Rindu tidak mengenal jarak.

Ia bisa tinggal di antara dua orang yang hanya berjarak beberapa langkah. Ia juga bisa menyeberangi ribuan kilometer tanpa pernah meminta izin.

Ia tidak membutuhkan kendaraan, tiket, atau alamat. Cukup satu kenangan, lalu ia sudah sampai.

Dan yang paling menyebalkan dari rindu adalah ia tidak pernah datang ketika kita menginginkannya.

Ia datang ketika kita sedang berusaha melupakannya.

Barangkali manusia memang diciptakan dengan dua ruang - ruang untuk menyimpan sesuatu dan ruang untuk melepaskannya.

Tetapi masalahnya, kita sering keliru menggunakan keduanya.

Kita menyimpan orang yang seharusnya dilepaskan. Kita melepaskan orang yang sebenarnya ingin kita pertahankan.

Kita mengingat sesuatu yang seharusnya selesai, lalu melupakan sesuatu yang sebenarnya pernah membuat kita bahagia.

Begitulah manusia.

Termasuk saya.

Ada pagi-pagi tertentu ketika tulisan tidak lagi terasa seperti pekerjaan. Ia berubah menjadi tempat persembunyian.

Di sana saya bisa menjadi manusia yang tidak perlu berpura-pura kuat.

Sebab dunia sering kali hanya mengenal wajah seseorang, bukan perang yang berlangsung di dalam dadanya.

Orang melihat kita tertawa, lalu mengira kita bahagia.

Orang melihat kita bekerja, lalu mengira kita baik-baik saja.

Orang melihat kita diam, lalu mengira kita tidak memiliki apa-apa untuk dikatakan.

Padahal bisa jadi, di balik diam itu ada ribuan kalimat yang sedang bertengkar untuk menentukan mana yang boleh keluar dan mana yang harus tetap tinggal.

Mungkin karena itulah saya menulis.

Saya tidak selalu menulis untuk pembaca.

Kadang saya menulis untuk menyelamatkan diri sendiri.

Kata-kata menjadi semacam jendela. Melalui jendela itu saya melihat kembali bagian-bagian diri yang selama ini saya sembunyikan.

Ada kecewa. Ada marah. Ada harapan. Ada kehilangan. Ada doa yang belum menemukan jawabannya.

Dan tentu saja, ada rindu.

Rindu yang kadang ingin saya peluk, tetapi juga ingin saya usir.

Ironis, bukan?

Kita bisa sangat merindukan seseorang, tetapi pada saat yang sama tahu bahwa pertemuan dengannya mungkin bukan lagi jalan terbaik.

Maka saya memahami satu hal:

Tidak semua rindu harus ditunaikan.

Sebagian rindu cukup dikenang.

Sebagian lagi cukup ditulis.

Dan sebagian yang paling dalam mungkin harus diserahkan kepada Tuhan.

Saya pernah berpikir bahwa setiap rasa memiliki tujuan.

Jika kita mencintai, maka cinta harus memiliki tempat untuk pulang.

Jika kita menunggu, maka seseorang harus datang.

Jika kita merindu, maka suatu hari harus ada pertemuan.

Namun semakin banyak usia mengajarkan saya tentang kehilangan, semakin saya sadar bahwa hidup tidak selalu bekerja seperti itu.

Ada orang yang hadir hanya untuk mengajarkan arti pertemuan.

Ada yang pergi untuk mengajarkan arti kehilangan.

Ada yang tinggal cukup lama untuk mengubah cara kita memandang kehidupan.

Dan ada pula yang bahkan tidak pernah menjadi milik kita, tetapi namanya mampu tinggal begitu lama di dalam hati.

Mungkin itulah mengapa pagi ini saya memilih lagu-lagu jiwang.

Bukan karena saya sedang kalah.

Bukan pula karena saya sedang meminta seseorang kembali.

Barangkali saya hanya sedang memberikan kesempatan kepada hati untuk berbicara tanpa harus dihakimi oleh logika.

Biarlah pagi ini hati sedikit manja.

Biarlah ia mengenang.

Biarlah ia merindu.

Sebab bahkan hati yang paling keras pun membutuhkan satu pagi untuk mengakui bahwa dirinya pernah rapuh.

Dan jika hari ini saya berkata, “Tidak sanggup merindu,” mungkin sebenarnya saya sedang mengatakan sesuatu yang jauh lebih sederhana:

Saya pernah begitu peduli.

Bukankah hanya orang yang pernah peduli yang mampu merasakan rindu sedalam itu?

Namun rindu juga mengajarkan kebijaksanaan.

Ia mengajarkan bahwa mencintai tidak selalu berarti memiliki. Menunggu tidak selalu berarti seseorang akan datang. Dan kehilangan tidak selalu berarti kehidupan telah selesai.

Kadang Tuhan mengambil sesuatu dari tangan kita bukan karena Dia ingin membuat kita menderita, melainkan karena Dia tahu tangan itu harus dikosongkan agar bisa menerima sesuatu yang lebih baik.

Maka pagi ini, setelah ritual subuh, saya kembali menulis.

Besok mungkin saya akan kembali menulis tentang dunia yang keras. Tentang hukum, tentang kekuasaan, tentang manusia yang lupa bahwa jabatan hanyalah sementara.

Mungkin playlist Raja Koruptor kembali berputar. Mungkin musik keras kembali memenuhi ruangan.

Tetapi hari ini, biarkan saya menjadi sedikit manusia.

Biarkan saya duduk bersama rindu.

Biarkan saya mendengarkan lagu-lagu yang membuat hati berkata, “Agrh...”

Dan biarkan tulisan ini menjadi saksi kecil bahwa pernah ada satu subuh ketika saya tidak sedang mengejar berita, tidak sedang mengejar angka, tidak sedang mengejar siapa pun.

Saya hanya sedang mengejar sebuah perasaan yang sejak tadi berusaha saya sembunyikan.

Rindu.

Namun pada akhirnya saya mengerti:

Rindu tidak selalu meminta seseorang untuk kembali. Kadang ia hanya meminta kita mengakui bahwa seseorang pernah begitu berarti.

Dan setelah pengakuan itu selesai, kita boleh kembali berjalan.

Sebab hidup tidak pernah memerintahkan kita untuk berhenti hanya karena satu nama masih tinggal di dalam ingatan.

Mungkin begitulah cara hati berdamai.

Bukan dengan melupakan.

Tetapi dengan menerima.

Yah... itulah saya.

Seorang yang setelah subuh terbiasa menulis.

Dan kalau suatu pagi saya tidak menulis, mungkin hari esok memang akan datang menagih.

Bukan hutang kepada pembaca.

Bukan hutang kepada dunia.

Melainkan hutang kepada diri sendiri.

Karena ada kata-kata yang harus dilahirkan, sebelum ia berubah menjadi sesak.

Dan pagi ini, kata itu adalah:

“Tidak Sanggup Merindu.”

Wk...[dit]


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK