Fakta Nasional

Tiga Tahun Menjelang Pemilu 2029: Manuver Politik Jokowi Besarkan PSI Dinilai Keliru

FAKTANASIONAL.NET - Kendati ajang kontestasi Pemilihan Umum baru akan dihelat sekitar tiga tahun mendatang, pemetaan manuver elite politik terus menuai sorotan tajam. Berdasarkan analisis terkini dari Direktur ABC Riset & Consulting, Erizal, lan…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Aditya Editor: Redaksi 📍 Nasional Tuesday, 02 June 2026 📖 1 menit
Tiga Tahun Menjelang Pemilu 2029: Manuver Politik Jokowi Besarkan PSI Dinilai Keliru
Presiden Jokowi meresmikan RS Mayapada Hospital Nusantara milik salah satu orang terkaya di Indonesia/BPMI Setpres.
) -->

FAKTANASIONAL.NET - Kendati ajang kontestasi Pemilihan Umum baru akan dihelat sekitar tiga tahun mendatang, pemetaan manuver elite politik terus menuai sorotan tajam.

Berdasarkan analisis terkini dari Direktur ABC Riset & Consulting, Erizal, langkah strategis mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang memutuskan untuk membesarkan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) ketimbang melahirkan partai politik baru, dinilai sebagai sebuah kalkulasi yang keliru.

Dikutip dari RMOL, pemaparan kritis Erizal pada Selasa (2/6/2026), terdapat serangkaian indikator fundamental yang mendasari simpulan tersebut.

Secara praktis, merombak citra partai yang telah memiliki preseden dan riwayat di mata publik jauh lebih rumit daripada membangun narasi awal sebuah partai baru.

Upaya asimilasi ini bahkan terbukti sangat rentan memantik konflik internal antara barisan kader perintis dan figur pendatang baru.

Meski PSI kini banyak dipenuhi oleh wajah-wajah segar, ironisnya nilai "kebaruan" tersebut gagal ditangkap secara utuh oleh masyarakat luas.

Dampak domino dari stagnasi inovasi inilah yang membuat angka elektabilitas partai berlambang mawar tersebut cenderung jalan di tempat.

Erizal menegaskan bahwa komitmen total dan kerja keras Jokowi dalam mengupayakan kemenangan PSI sejauh ini belum mampu menghasilkan lonjakan suara yang masif dan terukur.

Kalkulasi politik yang kurang tepat ini rupanya tidak hanya berhenti pada masalah branding, melainkan menjalar ke persoalan integrasi massa.

Hampir setahun bernaung di bawah panji PSI, Jokowi tampak masih kesulitan meleburkan gerbong relawannya secara organik ke dalam struktur hierarki partai.

Publik bahkan sempat disuguhkan dengan fenomena silang pendapat antara simpatisan relawan dengan fungsionaris PSI.

Kebijakan ini secara tidak langsung menciptakan kegamangan di basis massa loyalis Jokowi, seperti organ relawan Projo.

Kegelisahan tersebut sempat memicu wacana eksodus massal para relawan untuk menyeberang ke Partai Gerindra, meskipun rencana itu pada akhirnya menguap.

Konklusi akhir Erizal menyatakan bahwa membesarkan sebuah entitas partai yang benar-benar baru sejatinya jauh lebih rasional dibanding memoles ulang mesin politik lama yang citranya sudah terlampau kaku.[dit]


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK