Fakta Nasional

Tukar Kepala:Ketika Keadilan Kehilangan Wajahnya

JANGAN bertanya kepada hukum mengapa ia diam. Bertanyalah kepada manusia yang memegang timbangan itu, sebab besi tidak pernah memilih ke mana ia akan condong. Tangan manusialah yang membuatnya berat sebelah atau tetap seimbang. Keadilan tidak pernah…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Aditya Editor: Redaksi 📍 Nasional Tuesday, 28 July 2026 📖 3 menit
Tukar Kepala:Ketika Keadilan Kehilangan Wajahnya
Tukar Kepala:Ketika Keadilan Kehilangan Wajahnya/(foto: Ilustrasi)
) -->

JANGAN bertanya kepada hukum mengapa ia diam. Bertanyalah kepada manusia yang memegang timbangan itu, sebab besi tidak pernah memilih ke mana ia akan condong. Tangan manusialah yang membuatnya berat sebelah atau tetap seimbang.

Keadilan tidak pernah meminta istana yang megah. Ia hanya membutuhkan hati yang tidak dapat dibeli dan nurani yang tidak dapat ditaklukkan.

Namun ketika hati mulai mengenal harga, dan nurani mulai mengenal rasa takut, hukum perlahan berubah menjadi bayang-bayang dirinya sendiri.

Lalu lahirlah sebuah ungkapan yang tidak tertulis dalam kitab undang-undang, tetapi bergaung di lorong-lorong kehidupan: tukar kepala.

Ia bukan bahasa hukum. Ia adalah bahasa luka.

Ia lahir ketika rakyat mulai percaya bahwa yang dicari bukan lagi pelaku, melainkan seseorang yang bersedia memikul dosa yang bukan miliknya.

Betapa menyedihkan jika sebuah negeri yang membangun gedung pengadilan setinggi langit justru kehilangan kemampuan melihat wajah kebenaran yang berdiri di hadapannya.

Sebab kebenaran tidak pernah berteriak. Ia hanya menunggu untuk ditemukan.

Sedangkan kebohongan selalu datang dengan rombongan, membawa suara yang keras dan langkah yang tergesa.

Hukum seharusnya berjalan seperti matahari. Ia menyinari setiap orang tanpa bertanya siapa yang kaya dan siapa yang miskin, siapa yang berkuasa dan siapa yang lemah.

Tetapi apabila sinarnya hanya jatuh kepada mereka yang tidak mampu menghindar, sementara yang lain berlindung di balik tembok kekuasaan, maka yang bersinar bukan lagi keadilan, melainkan kepentingan.

Jangan pernah menyebut seseorang bersalah hanya karena dunia menunjuk kepadanya. Dunia terlalu sering salah mengenali wajah.

Dan jangan pula membebaskan seseorang hanya karena ia mengenakan pakaian kehormatan. Sebab kemuliaan jabatan tidak selalu menjadi cermin kemuliaan jiwa.

Sesungguhnya penjara yang paling mengerikan bukanlah bangunan yang dipagari besi.

Penjara yang paling gelap adalah hati yang kehilangan keberanian untuk berkata benar.

Di sanalah lahir keputusan-keputusan yang mengorbankan orang lain demi menyelamatkan diri sendiri.

Di sanalah nurani diperdagangkan.

Di sanalah keadilan mulai mati, bukan karena dibunuh oleh kejahatan, melainkan karena ditinggalkan oleh mereka yang bersumpah menjaganya.

Orang-orang berkata bahwa hukum adalah pedang.

Aku berkata, hukum lebih menyerupai cermin.

Apabila cermin itu retak, jangan salahkan wajah yang tampak terpecah. Perbaikilah cerminnya.

Karena hukum yang rusak akan memantulkan kebenaran yang rusak pula.

Janganlah engkau takut kepada rakyat yang bertanya. Takutlah kepada hari ketika rakyat berhenti bertanya.

Sebab ketika manusia tidak lagi percaya bahwa kebenaran dapat ditemukan di ruang sidang, mereka akan mencarinya di jalanan, di amarah, di dendam, dan di keputusasaan.

Tidak ada negeri yang runtuh hanya karena kekurangan undang-undang.

Banyak negeri runtuh karena kekurangan orang-orang yang setia kepada undang-undang.

Seorang hakim dapat kehilangan jabatannya.

Seorang jaksa dapat kehilangan kekuasaannya.

Seorang penyidik dapat kehilangan pangkatnya.

Namun apabila mereka kehilangan integritas, yang hilang bukan hanya masa depan mereka, melainkan harapan jutaan orang yang menggantungkan nasib kepada keadilan.

Tuhan tidak pernah meminta manusia menjadi sempurna.

Tetapi Tuhan selalu meminta manusia berlaku jujur.

Kejujuran itulah yang membuat hukum hidup.

Tanpanya, setiap pasal hanyalah tinta.

Setiap putusan hanyalah kertas.

Setiap palu hakim hanyalah bunyi yang menggema di ruangan kosong.

Jangan mencari seseorang untuk dipersalahkan.

Carilah kebenaran.

Karena orang yang tidak bersalah dapat dipenjarakan.

Namun kebenaran tidak pernah dapat dipenjarakan.

Ia akan menemukan jalannya sendiri, meski harus melewati waktu yang panjang dan malam yang sangat sunyi.

Maka apabila suatu hari engkau memegang timbangan keadilan, jangan letakkan kepentingan di salah satu sisinya.

Letakkan hanya hati yang bersih.

Karena hukum yang kehilangan hati akan selalu menemukan tumbal.

Sedangkan hukum yang memiliki hati akan selalu menemukan pelaku.

Dan pada hari ketika keadilan benar-benar menemukan wajahnya kembali, istilah "tukar kepala" akan lenyap dengan sendirinya. Bukan karena rakyat lupa mengucapkannya, melainkan karena bangsa ini telah berhenti memberinya alasan untuk tetap hidup.[dit]


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK