Fakta Nasional

Usai Terdepak, Low Tuck Kwong Kembali Mengambil Posisi Orang Terkaya di Indonesia

FAKTANASIONAL.NET - Low Tuck Kwong kembali menempati posisi orang terkaya nomor satu di Indonesia setelah kekayaannya melonjak seiring penguatan saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN). Kekayaan Low Tuck Kwong bertambah US$2,9 miliar atau sekitar Rp51,4…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Aditya Editor: Redaksi 📍 Nasional Saturday, 19 September 2026 📖 2 menit
Usai Terdepak, Low Tuck Kwong Kembali Mengambil Posisi Orang Terkaya di Indonesia
Usai Terdepak, Low Tuck Kwong Kembali Mengambil Posisi Orang Terkaya di Indonesia/Instagram
) -->

FAKTANASIONAL.NET - Low Tuck Kwong kembali menempati posisi orang terkaya nomor satu di Indonesia setelah kekayaannya melonjak seiring penguatan saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN).

Kekayaan Low Tuck Kwong bertambah US$2,9 miliar atau sekitar Rp51,4 triliun. Kenaikan tersebut mencapai sekitar 18%.

Dikutip dari Investor.id, berdasarkan The Real Time Billionaires List Forbes yang diakses pada Jumat malam, 18 September 2026.

Dengan tambahan tersebut, kekayaan bersih pendiri Bayan Resources itu mencapai US$19 miliar atau sekitar Rp337,1 triliun.

Posisi tersebut membuat Low Tuck Kwong kembali menggeser Prajogo Pangestu dan Robert Budi Hartono.

Pada perdagangan Jumat, 18 September 2026, saham BYAN juga melonjak 19,96% hingga menyentuh batas auto reject atas (ARA).

Saham perusahaan batu bara tersebut ditutup pada level Rp13.825 per saham.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, mengatakan pasar saat ini memperdagangkan dua narasi terhadap BYAN.

Di satu sisi, perubahan kepemilikan membuka peluang sinergi bisnis dan potensi re-rating.

Namun, risiko fundamental masih menjadi perhatian karena revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) belum tuntas.

Dilansir dari Investor.id, menurut Liza, kenaikan saham BYAN lebih mencerminkan euforia aksi korporasi dibandingkan perbaikan proyeksi laba.

Pasar masih menunggu persetujuan RKAB, keterbukaan harga transaksi 30% saham, serta kejelasan struktur pengendali setelah transaksi.

Tiga anak usaha Bayan Resources, yakni PT Tiwa Abadi, PT Tanur Jaya, dan PT Fajar Sakti Prima, disebut belum memperoleh persetujuan revisi RKAB 2026.

Situasi tersebut membuat kepastian volume produksi belum terjaga. Perseroan bahkan menyatakan force majeure atas sebagian kewajiban pasokan.

Moody's juga mengubah outlook BYAN dari stabil menjadi negatif, meski peringkat kredit tetap berada di level Ba1.

Jika revisi kuota tidak disetujui, Moody's memperkirakan produksi Bayan Resources pada 2026 hanya sekitar 39 juta ton. Angka itu jauh di bawah produksi sekitar 68 juta ton pada 2025.

Liza menilai persetujuan revisi RKAB dapat menjadi katalis penting karena berpotensi mengurangi risiko terhadap produksi dan laba BYAN pada 2026–2027.

Namun, belum terdapat bukti bahwa masuknya Jhonlin berkaitan dengan proses evaluasi RKAB oleh pemerintah.[dit]


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK