Fakta Nasional

Viral Siswa SMA Tidak Bisa Matematika Dasar, Pimpinan DPR: Evaluasi Pendidikan Harus Dilakukan

JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET - Wakil Ketua DPR RI, Cucun Ahmad Syamsurijal, menyoroti rendahnya literasi di kalangan masyarakat Indonesia, khususnya pelajar. Ia mengingatkan pentingnya langkah strategis untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Zul Jamba Editor: Redaksi 📍 Nasional Saturday, 16 November 2024 📖 2 menit
Viral Siswa SMA Tidak Bisa Matematika Dasar, Pimpinan DPR: Evaluasi Pendidikan Harus Dilakukan
Video viral siswa SMA tidak bisa perhitungan dasar/Scsht.

JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET - Wakil Ketua DPR RI, Cucun Ahmad Syamsurijal, menyoroti rendahnya literasi di kalangan masyarakat Indonesia, khususnya pelajar. Ia mengingatkan pentingnya langkah strategis untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) agar generasi muda Indonesia dapat berdaya saing di tengah tantangan global.

"Masih adanya anak-anak kita yang kurang literasinya cukup mengkhawatirkan, karena literasi menentukan kualitas SDM kita," ujar Cucun, Jumat (15/11/2024).

Beberapa waktu terakhir, sejumlah video viral di media sosial menunjukkan siswa SMP-SMA kesulitan menjawab soal matematika dasar, seperti perkalian dan pembagian. Bahkan, beredar video yang menunjukkan 29 pelajar SMP di Pangandaran, Jawa Barat, tidak bisa membaca.

"Meski video tersebut tidak bisa digeneralisasi, fenomena ini tetap perlu menjadi perhatian. Saya yakin banyak anak-anak Indonesia yang pintar, tetapi kita juga tidak bisa mengabaikan fakta yang terjadi," kata Cucun.

Cucun juga mengutip survei Kehidupan Keluarga Indonesia (IFLS) yang menunjukkan kenaikan jenjang pendidikan tidak selalu diikuti oleh peningkatan kemampuan literasi. Skor literasi siswa kelas 1 hanya 26,5%, sementara siswa kelas 12 mencapai 38,7%, menunjukkan kenaikan yang tidak signifikan.

Data UNESCO juga menunjukkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia sangat rendah. Hanya 1 dari 1.000 orang Indonesia yang rajin membaca, sementara studi World's Most Literate Nation Ranking menempatkan Indonesia di peringkat 60 dari 61 negara.

"Karena buku adalah jendela dunia, data ini menjadi indikasi serius bahwa sistem pendidikan kita perlu diperbaiki. Kita harus mengejar visi Indonesia Emas 2045, dan itu membutuhkan SDM yang unggul," tegas legislator dari Jawa Barat II tersebut.

Cucun menyoroti banyaknya lulusan SMA dan SMK yang menganggur akibat kurangnya akses pendidikan tinggi. Ia mendorong pemerintah untuk memperluas program vokasi agar siswa yang tidak melanjutkan pendidikan tinggi tetap memiliki keterampilan untuk bersaing di dunia kerja.

"Anak-anak kita yang tidak bisa menempuh pendidikan tinggi harus diberikan modal keterampilan. Program vokasi dapat menjadi solusi untuk mencetak generasi muda yang kompeten," paparnya.

Menurut Cucun, reformasi pendidikan harus dilakukan dengan memperbaiki sistem pengajaran dan kualitas tenaga pendidik. Ia mendorong pelatihan bagi guru untuk memastikan mereka dapat mengajarkan keterampilan dasar secara efektif dan membantu siswa yang mengalami kesulitan.

"Guru harus lebih jeli melihat potensi siswa sehingga bisa mengoptimalkan bakat mereka, baik di bidang akademik maupun non-akademik," jelasnya.

Selain itu, Cucun meminta para guru untuk lebih kreatif dan inovatif dalam menyampaikan materi pembelajaran agar siswa lebih termotivasi.

Cucun mengingatkan, di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI), generasi muda Indonesia harus dibekali dengan keterampilan yang relevan.

"SDM unggul adalah syarat mutlak untuk menjadikan Indonesia negara maju. Jangan sampai anak-anak kita tertinggal di era globalisasi ini," tutupnya.

Dengan evaluasi sistem pendidikan, penguatan literasi, dan peningkatan kompetensi melalui program vokasi, Cucun optimistis Indonesia dapat mencetak generasi muda yang mampu membawa bangsa ini bersaing di kancah global.[dnl]


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK