Cukup Satu Pekan Rupiah Bisa Menguat, Ini Formula Haidar Alwi

Ir. R Haidar Alwi, MT.

JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET – Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat pada 19 Mei 2026 berada di kisaran Rp17.700 per dolar AS, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih bergerak dalam zona koreksi setelah mengalami tekanan tajam dalam beberapa hari terakhir.

Dalam perspektif ekonomi makro, dua indikator tersebut merupakan termometer paling sensitif yang merekam tingkat kepercayaan pasar terhadap produktivitas nasional, kekuatan devisa, dan kualitas tata kelola ekonomi Indonesia.

Dalam konteks inilah, Ir. R. Haidar Alwi, MT – Presiden Haidar Alwi Care Dan Haidar Alwi Institute, serta Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB, menilai bahwa pelemahan Rupiah bukanlah pertanda melemahnya fondasi ekonomi nasional.

Justru ini momentum strategis untuk menegaskan kembali amanat konstitusi dan memperkuat struktur ekonomi Indonesia melalui sebuah formula yang sederhana, tetapi memiliki landasan teoritis, matematis, dan konstitusional yang sangat kuat.

“Rupiah yang kuat bukan sekadar hasil intervensi sesaat, melainkan konsekuensi logis dari bangsa yang produktif, dipercaya, dan berdaulat,” kata Haidar Alwi, Selasa (19/5/2026).

Haidar menilai ketika tiga kekuatan itu bergerak serempak, nilai tukar tidak hanya menguat, tetapi menjadi cermin martabat ekonomi Indonesia.

“Di situlah lahir Dividen Kedaulatan, yaitu manfaat nyata ketika seluruh kekayaan Nusantara benar-benar bekerja untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat,” tegas Haidar Alwi.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa stabilitas Rupiah pada hakikatnya merupakan hasil akhir dari desain ekonomi nasional yang dijalankan secara konsisten, ilmiah, dan berpijak pada konstitusi.

Mengapa Rupiah dan IHSG Tertekan Bersamaan.

Dalam teori keuangan internasional, nilai tukar dan pasar saham memiliki hubungan yang sangat erat. Ketika investor global menjual saham Indonesia, dana hasil penjualan umumnya dikonversi ke dolar Amerika Serikat.

Proses ini meningkatkan permintaan dolar, menekan Rupiah, dan pada saat yang sama memperdalam koreksi IHSG. Dengan demikian, pelemahan Rupiah dan penurunan IHSG sesungguhnya merupakan dua manifestasi dari satu variabel utama, yaitu melemahnya kepercayaan pasar dalam jangka pendek.

Faktor pemicunya dapat berupa kenaikan harga minyak dunia, ketegangan geopolitik, penyesuaian portofolio global, perubahan komposisi indeks internasional, serta sikap wait and see investor terhadap arah kebijakan ekonomi nasional.

Namun menurut Haidar Alwi, dinamika tersebut merupakan fenomena yang wajar dalam ekonomi terbuka dan justru menegaskan pentingnya memperkuat fondasi ekonomi berbasis produksi dan kedaulatan nasional.

“Pasar adalah termometer kepercayaan, bukan hakim terakhir atas masa depan bangsa. Grafik yang menurun hanyalah sinyal bahwa fondasi harus diperkuat. Selama produktivitas meningkat, kebijakan tetap kredibel, dan konstitusi dijalankan dengan konsisten, Indonesia memiliki semua syarat untuk bangkit lebih kuat,” ujar Haidar Alwi.

Dari sinilah lahir kebutuhan untuk memahami Rupiah bukan sekadar sebagai angka di layar perdagangan, tetapi sebagai hasil akhir dari mekanisme ekonomi yang jauh lebih mendasar.

Hukum Fundamental Kekuatan Rupiah.

Menurut Haidar Alwi, kekuatan mata uang nasional mengikuti sebuah prinsip yang dapat disebut sebagai Hukum Fundamental Kekuatan Rupiah, yaitu:

Rupiah\ Kuat = Produktivitas \times Kepercayaan \times Kedaulatan

Formula ini merupakan sintesis antara teori ekonomi makro, rekayasa sistem, dan amanat Pembukaan UUD 1945 Alinea IV, Pasal 23 ayat (1), Pasal 23D, serta Pasal 33 ayat (1) sampai ayat (4).

Produktivitas

Produktivitas adalah kemampuan bangsa mengubah sumber daya alam, tenaga kerja, ilmu pengetahuan, dan teknologi menjadi nilai tambah yang tinggi. Dalam teori pertumbuhan ekonomi, produktivitas merupakan sumber utama peningkatan pendapatan nasional, ekspor bernilai tambah, penerimaan negara, dan akumulasi devisa.

Hilirisasi nikel, pengolahan emas, industrialisasi manufaktur, modernisasi pertanian, dan penguatan BUMN strategis merupakan instrumen nyata untuk meningkatkan produktivitas nasional.

Exit mobile version