Opini  

Pengepungan Berdarah “Kampung Narkoba” di Katingan, Tiga Polisi Gugur

MALAM di tepian Sungai Katingan seharusnya hanya menyisakan suara arus dan desir angin yang membelah rimbun hutan. Namun, pada awal Juli 2026, kegelapan itu berubah menjadi saksi sebuah tragedi mengguncang Kalimantan Tengah.

Desa Tumbang Kalemei mendadak menjadi pusat perhatian nasional setelah sebuah operasi pemberantasan narkotika berujung pada bentrokan mematikan yang merenggut nyawa aparat kepolisian dan seorang warga sipil.

Peristiwa itu menghadirkan pertanyaan jauh lebih besar dari sekadar bagaimana operasi tersebut berlangsung. Mengapa sebuah penangkapan terhadap terduga bandar sabu dapat berubah menjadi pengepungan berdarah? Mengapa hukum datang membawa kewenangan negara justru berhadapan dengan perlawanan begitu brutal? Pertanyaan paling menyakitkan, sampai di titik mana narkoba telah menguasai kehidupan sebuah desa?

Rabu malam, 1 Juli 2026, sekitar pukul 21.00 WIB, sebanyak 12 personel Satresnarkoba Polres Katingan bergerak menyusuri Sungai Katingan. Operasi dipimpin langsung Kasat Narkoba AKP Affan Effendi Batubara. Sasaran mereka adalah seorang residivis yang dikenal dengan inisial BIO beserta rekannya, BUSU, setelah adanya informasi masyarakat mengenai dugaan aktivitas peredaran sabu di Desa Tumbang Kalemei.

Strategi telah disusun. Sembilan personel bergerak menuju rumah target, sementara tiga lainnya ditempatkan sebagai pengamanan di sekitar kawasan SMP desa. Operasi yang dirancang senyap itu semula berjalan sesuai rencana. Hingga akhirnya, sekitar pukul 00.30 WIB, BIO berhasil diamankan.

Namun, justru pada detik itulah keadaan berubah drastis. Situasi semula terkendali mendadak pecah. Berdasarkan kronologi kepolisian, anggota keluarga target melakukan perlawanan menggunakan senjata tajam.

Ketegangan meningkat dalam hitungan detik. Upaya memberikan peringatan tidak mampu meredakan situasi. Kerumunan warga kemudian berdatangan. Polisi semula menjalankan operasi penegakan hukum mendadak berada di tengah kepungan massa yang jumlahnya jauh lebih besar.

Dalam kekacauan itu, seorang warga bernama Teriyo dilaporkan meninggal akibat tembakan. Peristiwa tersebut menjadi titik balik yang memperkeruh keadaan. Emosi massa meledak. Kepungan semakin rapat. Aparat terdesak hingga harus menyelamatkan diri ke arah sungai.

Di sinilah tragedi mencapai babak paling kelam. Sebagian anggota polisi berenang menyeberangi Sungai Katingan menuju pulau kecil dan kawasan hutan sambil meminta bantuan. Mereka bukan lagi sekadar menjalankan operasi, tetapi berjuang mempertahankan hidup.

Tidak semua berhasil keluar. Tiga anggota kepolisian, yakni Aiptu Sumariyanto, Aipda Yudhie Perdana Putra, dan Bripda Nopandri Ramadhana, terpisah dari rombongan. Hari-hari berikutnya berubah menjadi operasi pencarian dipenuhi kecemasan. Harapan keluarga bergantung pada setiap kabar yang datang dari sungai.