Banyak kerajaan runtuh bukan karena musuh yang terlalu perkasa, tetapi karena penguasanya gagal menaklukkan kesombongan sendiri.
Dan banyak manusia kehilangan kehormatan bukan saat kalah melawan orang lain, melainkan ketika menyerah kepada amarahnya sendiri.
Barangkali musuh terbesar manusia memang bukan mereka yang berdiri di seberang medan laga.
Musuh itu justru bersemayam di balik tulang rusuknya sendiri. Ia bernama ego, keserakahan, dan emosi yang menolak dikendalikan.
Ironisnya, semakin besar kekuasaan berada di tangan seseorang, semakin kecil ruang bagi emosinya untuk dibiarkan memimpin.
Sebab setiap keputusan yang lahir dari kemarahan bukan hanya melukai satu orang, tetapi dapat mengubah nasib banyak kehidupan.
Maka, ukuran seorang manusia tidak pernah ditentukan oleh seberapa tajam pedang yang dimilikinya, melainkan oleh seberapa kuat ia menahan tangannya untuk tidak menghunusnya tanpa alasan yang benar.
Dunia tidak kekurangan orang kuat. Dunia justru kekurangan manusia yang mampu mengalahkan dirinya sendiri.
Sebab kemenangan paling agung bukanlah ketika berhasil menjatuhkan lawan, melainkan ketika mampu menundukkan ego yang terus berbisik agar kekuasaan dipakai demi kepentingan pribadi.
Pada akhirnya, sejarah tidak akan mengingat betapa tajamnya pedang seseorang. Sejarah hanya akan mengingat untuk apa pedang itu diangkat.
Spakah untuk melindungi yang lemah, menegakkan keadilan, atau sekadar memuaskan amarah yang dibungkus dengan berbagai dalih.
Karena sejatinya, pedang tidak pernah memiliki emosi. Emosi selalu bersemayam pada hati yang menggenggamnya.
Dan ketika hati kehilangan kebijaksanaan, bahkan alat yang diciptakan untuk menjaga keadilan pun dapat berubah menjadi senjata yang menikam kemanusiaan.[dit]











