Sudaryono Sudah Tidak Sanggup Lagi Memikul Beban BGN?

Sudaryono Sudah Tidak Sanggup Lagi Memikul Beban BGN?/Instagram

Kalau pemberitaan dianggap membuat masalah terlihat lebih besar, mungkin persoalannya bukan pada pemberitaan. Bisa jadi persoalannya adalah masalah tersebut memang sudah cukup besar untuk diberitakan.

Pers di ruang publik tidak bertugas membuat pejabat nyaman. Pers bertugas memastikan persoalan yang menyangkut kepentingan masyarakat tidak dikubur di balik narasi keberhasilan.

Sudaryono tentu berhak memberikan penjelasan dan membantah tudingan yang dianggap tidak benar. Namun, seorang pejabat publik juga harus siap menghadapi pertanyaan yang tidak menyenangkan.

Sebab tanggung jawab tidak boleh bekerja seperti permainan lempar bola.

Ketika berhasil, semua orang ingin disebut sebagai bagian dari keberhasilan. Tetapi ketika gagal, jangan sampai kesalahan berubah menjadi pencarian kambing hitam.

Publik justru menunggu sesuatu yang jauh lebih sederhana: akui jika ada kekurangan, cari sumber masalahnya, perbaiki sistemnya, lalu pastikan kejadian serupa tidak berulang.

Itulah kepemimpinan.

Kalau setiap kritik dijawab dengan mencari siapa yang harus disalahkan, lama-lama yang hilang bukan hanya kepercayaan publik, tetapi juga kesempatan untuk memperbaiki program.

Masyarakat pada akhirnya dapat menilai sendiri. Apakah Sudaryono masih mampu memikul beban tanggung jawab di tengah berbagai persoalan BGN, atau justru sudah mulai kewalahan menghadapi tekanan yang datang dari program sebesar MBG?

Pertanyaan itu tidak perlu dijawab dengan kemarahan.

Jawabannya cukup ditunjukkan melalui kinerja, keberanian mengevaluasi, dan kesediaan bertanggung jawab.

Sebab seorang pemimpin tidak diuji ketika programnya dipuji.

Pemimpin diuji ketika programnya bermasalah—dan ia tetap berdiri paling depan untuk memperbaikinya.[dit]