Secercah Harapan

Secercah Harapan

AKAN tiba masa ketika manusia tidak lagi meminta hidup menjadi indah.

Ia hanya meminta agar hatinya cukup kuat untuk menerima kenyataan.

Saya kira, di situlah manusia mulai mengenal harapan yang sesungguhnya.

Bukan harapan yang lahir dari kemudahan. Bukan pula harapan yang tumbuh karena semua keinginan terpenuhi.

Tetapi harapan yang tetap menyala ketika kenyataan berkali-kali mencoba memadamkannya.

Sebab hidup tidak selalu datang membawa jawaban.

Kadang ia hanya membawa pertanyaan.

Mengapa seseorang harus kehilangan sebelum mengerti arti memiliki?

Mengapa sebagian doa harus menunggu begitu lama?

Mengapa orang yang berusaha menjaga kebaikan justru sering berhadapan dengan luka?

Saya tidak selalu memiliki jawabannya.

Dan mungkin, memang tidak semua pertanyaan diciptakan untuk segera dijawab.

Sebagian pertanyaan dititipkan kepada waktu agar manusia belajar menjadi lebih dewasa dalam memahami kehidupan.

Kita sering mengira bahwa cahaya adalah lawan dari kegelapan.

Padahal, tanpa kegelapan, mungkin kita tidak pernah belajar menghargai cahaya.

Begitu pula harapan.

Ia tidak selalu muncul ketika kehidupan sedang baik-baik saja. Justru ia sering lahir ketika hampir tidak tersisa alasan untuk percaya.

Ketika satu demi satu pintu tertutup.

Ketika orang-orang yang dahulu berjalan bersama mulai meninggalkan kita.

Ketika rencana yang disusun dengan sungguh-sungguh runtuh hanya dalam satu malam.

Ketika dunia seolah berkata, “Cukup.”

Namun hati kecil kita menjawab, “Belum.”

Bukan karena kita yakin semuanya akan menjadi mudah.

Tetapi karena masih terdapat sesuatu di dalam diri yang menolak menyerah.

Itulah secercah harapan.

Kecil.

Hampir tidak terlihat.

Namun cukup untuk membuat seseorang bangkit dari tempat ia pernah jatuh.

Saya belajar bahwa tidak semua kemenangan berbentuk keberhasilan.

Kadang kemenangan adalah ketika kita tetap menjadi manusia setelah kehidupan memperlakukan kita dengan keras.

Tetap memilih jujur ketika kebohongan terlihat lebih menguntungkan.

Tetap memaafkan tanpa harus melupakan pelajaran.

Tetap berbuat baik meskipun kebaikan tidak selalu kembali kepada kita.

Dan tetap percaya kepada Tuhan ketika jalan di hadapan mata terasa tidak masuk akal.

Mungkin itulah kedewasaan yang sebenarnya.

Bukan tentang seberapa banyak yang berhasil kita miliki, melainkan seberapa banyak kehilangan yang mampu kita terima tanpa kehilangan diri sendiri.

Sebab manusia bisa kehilangan harta.

Bisa kehilangan jabatan.

Bisa kehilangan seseorang yang dicintai.

Bisa kehilangan kesempatan.

Exit mobile version