Hilirisasi Nikel dalam Bayang-Bayang Elite Politik yang Memakan Korban Jiwa

Hilirisasi Nikel dalam Bayang-Bayang Elite Politik yang Memakan Korban Jiwa/YouTube/Indonesia Baru

FAKTANASIONAL.NET – Program hilirisasi nikel Indonesia kembali menjadi perhatian karena dampaknya terhadap lingkungan, kesehatan masyarakat, dan keselamatan pekerja.

Di balik pertumbuhan industri pengolahan mineral, muncul persoalan mengenai pencemaran, ketergantungan energi batu bara, serta keterkaitan kepentingan bisnis dan politik.

Pembahasan tersebut menyoroti kontradiksi antara narasi transisi energi hijau dan praktik industri di sejumlah kawasan pengolahan nikel.

Hilirisasi yang dikaitkan dengan pengembangan teknologi ramah lingkungan dinilai perlu dievaluasi berdasarkan dampaknya di wilayah penghasil bahan baku.

Dikutip redaksi dari YouTube channel/@Indonesia Baru pada 22 Oktober 2026, pembahasan ini turut mengangkat berbagai persoalan yang menyertai perkembangan industri nikel nasional.

Aktivitas industri nikel disorot karena persoalan pencemaran pesisir, sedimentasi lumpur, serta pembuangan air bahang dari pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

Kondisi tersebut berpotensi mengganggu ekosistem laut di sekitar kawasan industri.

Dampak kesehatan juga menjadi perhatian, termasuk temuan arsenik pada warga dan pekerja serta tingginya kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang dikaitkan dengan polusi udara. Abu terbang atau fly ash dari pembakaran batu bara turut masuk dalam pembahasan.

Dari sisi keselamatan kerja, total 107 korban jiwa yang disebutkan mencakup sektor industri nikel nasional, bukan hanya kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP).

Sementara itu, sekitar 43 korban jiwa akibat kecelakaan kerja disebut berasal dari kawasan IMIP.

Angka tersebut menunjukkan pentingnya evaluasi keselamatan pekerja.

Meski demikian, data resmi tetap diperlukan untuk memastikan angka dan cakupan korban secara tepat.

Persoalan lain berkaitan dengan penggunaan nikel. Sekitar 65 persen nikel Indonesia disebut digunakan untuk memproduksi baja tahan karat (stainless steel), bukan baterai kendaraan listrik. Tiongkok juga disebut sebagai tujuan utama ekspor produk terkait.