FAKTANASIONAL.NET — Nilai tukar rupiah dibuka melemah tipis ke level Rp17.952 per dolar AS pada sesi perdagangan Kamis (11/6/2026) pagi.
Mata uang Garuda tercatat terkoreksi sebesar 8 poin atau turun 0,04 persen dibandingkan dengan posisi pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.
Pelemahan rupiah ini sejalan dengan pergerakan mayoritas mata uang di kawasan Asia yang juga tertahan di zona merah.
Di pasar regional, won Korea Selatan memimpin pelemahan setelah merosot 0,50 persen, diikuti ringgit Malaysia yang terkoreksi 0,04 persen, dan yuan China yang melemah tipis 0,03 persen terhadap dolar AS.
Kendati demikian, beberapa mata uang Asia terpantau masih mampu bertahan dan menguat tipis.
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp18.028 per Dolar AS, DPR Pertanyakan Langkah Intervensi Bank Indonesia
Peso Filipina menguat 0,11 persen, diikuti yen Jepang yang naik 0,03 persen, dolar Singapura bertambah 0,02 persen, serta dolar Hong Kong yang bergerak menguat tipis 0,01 persen.
Kondisi berbeda terjadi di kelompok mata uang negara maju, di mana mayoritas justru bergerak menguat terhadap dolar AS.
Franc Swiss memimpin tren positif ini dengan kenaikan 0,20 persen, disusul euro Eropa sebesar 0,16 persen, poundsterling Inggris 0,12 persen, serta dolar Australia dan dolar Kanada yang kompak terangkat 0,07 persen.
Tertahan Sentimen Konflik Timur Tengah
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai rupiah sebenarnya masih memiliki momentum untuk melanjutkan tren penguatan terhadap dolar AS.
Namun, ruang bagi mata uang domestik untuk menguat diperkirakan akan berjalan cukup terbatas hari ini.











