Pemerintah Harus Perkuat Subsidi KRL Jabodetabek, Bukan Mengurangi

Yusuf menilai, daripada menaikkan tarif, pemerintah seharusnya berfokus pada integrasi KRL dengan moda transportasi lain untuk menurunkan biaya perjalanan ‘first mile’ dan ‘last mile’, yang saat ini masih terlalu tinggi.

“Sebagai contoh, dari 2.010 kawasan perumahan di Jabodetabek pada 2023, hanya sekitar 5 persen yang mendapatkan akses layanan transportasi umum. Hal ini menyebabkan sepeda motor menjadi moda transportasi utama bagi komuter Jabodetabek, sehingga kemacetan semakin parah,” jelas Yusuf.

Yusuf juga menyebutkan bahwa pada 2024 jumlah penumpang KRL Jabodetabek telah kembali pulih seperti sebelum pandemi, dengan mencapai 1 juta penumpang per hari, dan diperkirakan akan meningkat sebesar 6 persen setiap tahunnya hingga 2027.

“Seiring banyaknya unit KRL yang telah tua sehingga membutuhkan perawatan, peremajaan dan sebagian bahkan harus pensiun, KRL Jabodetabek kini kekurangan armada sehingga semakin sering mengalami kelebihan muatan (overload), terutama pada waktu-waktu sibuk (peak hours),” ucap Yusuf.

Untuk menurunkan biaya first – last mile, menjadi krusial juga bagi pemerintah untuk memfasilitasi komuter memiliki mobilitas yang tinggi tanpa perjalanan dengan kendaraan bermotor (walkable). Hal ini dapat didorong antara lain dengan pembangunan pedestrian dan jalur sepeda yang aman dan nyaman dengan pohon peneduh yang rindang serta dilengkapi lampu penerang jalan yang memadai.

“Menjadi sebuah kesalahan fatal ketika kemacetan semakin memuncak dan target emisi semakin menjauh, penumpang KRL justru mendapat disinsentif berupa kenaikan tarif meski dengan berbagai alasan seperti tarif KRL sejak 2016 belum pernah naik, agar subsidi tepat sasaran atau kenaikan tarif hanya ditujukan kepada penumpang yang dianggap mampu,” tutur Yusuf

Yusuf menegaskan bahwa menaikkan tarif KRL di saat kemacetan semakin parah dan target emisi semakin jauh adalah kesalahan fatal.

“Semua penumpang KRL, termasuk yang mampu secara ekonomi, berhak mendapatkan layanan yang setara. Semakin banyak masyarakat mampu yang menggunakan KRL, semakin baik bagi perekonomian dan lingkungan karena mereka tidak lagi menggunakan kendaraan pribadi,” tutup Yusuf.[zul]