Catatan Kritis Angota DPR yang Baru Dilantik : Tantangan dan Solusi untuk Pendidikan Indonesia

Anggota DPR RI dari Fraksi PKS, dr. Gamal Albinsaid. Foto: Fraksi PKS DPR

Kedua, ia menyoroti tingkat kesejahteraan guru yang rendah. Laporan terbaru menunjukkan bahwa sebagian besar guru di Indonesia, termasuk guru honorer, menerima penghasilan di bawah 2 juta rupiah. Hal ini berdampak negatif pada motivasi dan kualitas pengajaran.
“Ketiga, fixed mindset di kalangan siswa. Sebanyak 71% anak-anak Indonesia memiliki pola pikir tetap (fixed mindset), yang dapat menghambat pengembangan diri dan potensi akademik mereka,” pungkasnya.
Dr. Gamal juga mengungkapkan masalah akses pendidikan tinggi yang terbatas. Angka Partisipasi Kasar (APK) untuk perguruan tinggi masih jauh dari target, dengan disparitas yang signifikan antara kelompok ekonomi yang berbeda.
“Kelima, krisis literasi dan numerasi. Data menunjukkan bahwa minat baca di Indonesia sangat rendah, dan kemampuan numerasi siswa juga stagnan meskipun mereka naik ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi,” jelasnya.
Keenam, ia menyoroti adanya mismatch antara pendidikan dan pekerjaan. Penelitian menunjukkan bahwa banyak mahasiswa dan pekerja tidak sesuai dengan jurusan atau pendidikan yang mereka jalani, menimbulkan tantangan dalam dunia kerja.
“Ketujuh, tingginya pengangguran di kalangan lulusan SMK. Lulusan SMK menjadi kontributor utama pengangguran terbuka, menandakan perlunya link and match antara pendidikan dan kebutuhan pasar,” tandas dr. Gamal.
Kedelapan, ia menambahkan mengenai gap rata-rata lama sekolah dan harapan lama sekolah. Rata-rata lama sekolah di Indonesia jauh lebih rendah dibandingkan harapan lama sekolah, menciptakan tantangan serius bagi masa depan pendidikan di tanah air.
Dr. Gamal mengajak semua pihak untuk bersama-sama mencari solusi dalam menghadapi tantangan-tantangan ini demi mewujudkan pendidikan yang berkualitas dan berkeadilan. “Pendidikan yang baik adalah investasi untuk masa depan bangsa. Mari kita berkolaborasi untuk menciptakan sistem pendidikan yang lebih baik,” tegas dokter lulusan Universitas Brawijaya ini.
Dengan catatan kritis ini, dr. Gamal berharap agar semua pemangku kepentingan dapat berkomitmen untuk memperbaiki kondisi pendidikan di Indonesia demi menciptakan generasi masa depan yang lebih baik. [dnl]