“Sampai saat ini belum ada format yang jelas terkait libur selama Ramadhan. Banyak pertanyaan yang muncul, seperti apakah semua kegiatan sekolah diliburkan atau hanya pembelajaran formal yang diganti dengan pembelajaran keagamaan,” jelasnya.
Politisi PKB ini khawatir jika kegiatan selama Ramadhan diserahkan sepenuhnya kepada orang tua, mengingat banyak orang tua yang bekerja dan akan kesulitan mengatur kegiatan anak-anak mereka. “Kalau anak-anak hanya di rumah, mereka akan cepat bosan dan berpotensi kecanduan gadget,” tambahnya.
Selain itu pentingnya Kemenag dan Kemendikdasmen untuk merumuskan program Ramadhan yang melibatkan sekolah dan masjid setempat dalam menggelar acara keagamaan. “Ini harus segera dirumuskan agar sekolah dan madrasah bisa bersiap menyambut Ramadhan dengan kegiatan yang bermanfaat,” pungkas Habib Syarief. [dnl]











