Peneliti IDEAS: Kejatuhan Kelas Menengah dan Sikap Gamang Pemerintah Soal PPN 12% Sebabkan Inflasi Tembus Rekor Terendah

Peneliti IDEAS (Institute for Demographic and Affluence Studies), Tira Mutiara/dokpri.

“Apabila dilihat berdasarkan jumlah pengeluaran, maka kelompok kelas menengah menjadi kelompok yang paling merosot keyakinannya,” papar Tira.

Rendahnya konsumsi dan daya beli ini disebabkan oleh fenomena menurunnya jumlah kelas menengah yang menjadi penopang pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Kelas menengah berperan dalam mendorong konsumsi domestik yang lebih tinggi karena mereka memiliki kecenderungan konsumsi yang lebih tinggi dari kelas atas dan memiliki pendapatan yang lebih besar dari kelas bawah,” tutur Tira.

Kejatuha pengeluaran kelas menengah berpotensi menyeret jatuhnya perekonomian.

Selain itu adanya ketidakpastian ekonomi dan kebijakan dari Pemerintah, membuat pelaku ekonomi, baik individu atau bisnis, mengambil sikap “wait and see”.

“Para pelaku usaha dan masyarakat menahan diri untuk berinvestasi dan melakukan pengeluaran konsumsi yang besar sampai ada kejelasan mengenai kebijakan Pemerintah,” Ujar Tira.

Dalam situasi ketidakpastian, masyarakat enggan untuk melakukan risk taking, yang akhirnya memperlambat pertumbuhan ekonomi. Situasi ini juga membuat pelaku ekonomi menunda keputusan karena fenomena loss aversion (menghindari kerugian).

“Pada fenomena kebijakan kenaikan PPN 12%. Masyarakat telah mengambil ancang-ancang menahan konsumsi dan bersiap diri menghadapi kenaikan PPN ini,” beber Tira.

Walaupun pada akhirnya, kebijakan ini dibatalkan. Sikap Pemerintah yang berubah-ubah dalam mengambil keputusan sangat berdampak terhadap dinamika perekonomian.

“Dalam kondisi ini, Pemerintah diharapkan memberikan sinyal-sinyal positif dan kepastian mengenai kebijakan yang akan diberlakukan untuk membangkitkan kembali perekonomian Indonesia yang sedang lesu,” tutup Tira.[zul]