Donald Trump Kerek Tarif Impor Baja AS dari 25% ke 50% Mulai Juni 2025

Donald Trump/(Instagram)

Dampak Kebijakan Tarif Tinggi terhadap Sektor Konstruksi, Manufaktur, dan Hubungan Dagang
Meski kebijakan Trump memprioritaskan industri baja AS, efeknya dapat menjalar ke sektor konstruksi dan manufaktur yang menggunakan baja sebagai bahan baku utama.

Analis memperingatkan bahwa harga material konstruksi bisa naik, mendorong biaya pembangunan infrastruktur, perumahan, hingga proyek-proyek swasta.

Pada 2018, peningkatan tarif baja sebesar 25% sempat menyebabkan kenaikan harga mobil, peralatan manufaktur, dan mesin, serta menurunkan output industri terkait sebesar lebih dari US$ 3 miliar pada 2021.

Jika ulasan serupa terjadi, sektor konstruksi diprediksi akan menanggung beban biaya tambahan, sementara produsen alat berat harus memutar strategi untuk menekan ongkos produksi.

Dari sisi hubungan dagang, Kanada telah mengajukan keluhan ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), menilai kebijakan tarif AS melanggar aturan perdagangan internasional.

Jepang dan beberapa mitra dagang utama juga menyatakan keprihatinan, mengancam tindakan balasan berupa tarif impor pada produk-produk tertentu asal AS.

Meski Uni Eropa akhirnya membatalkan ancaman balasannya pada 2025, ketidakpastian kebijakan perdagangan dapat menghambat negosiasi kesepakatan dagang baru.

Pelaku industri global kini tengah menunggu respons formal dari Washington terkait sengketa WTO dan potensi diskusi bilateral untuk mencari solusi yang saling menguntungkan.

Dengan diberlakukannya tarif 50% mulai akhir pekan pertama Juni 2025, industri baja AS memiliki peluang untuk mengencangkan ikat pinggang kompetisi di pasar dalam negeri.

Namun, efektivitas kebijakan ini masih harus diuji di tengah dinamika harga global, tekanan inflasi, dan respons partner dagang.

Pelaku usaha di sektor terkait diharapkan melakukan antisipasi dini, misalnya dengan mengamankan kontrak jangka panjang dan mencari alternatif bahan baku agar dampak kenaikan biaya bisa ditekan.[dit]