Meskipun Beijing mengklaim akan mengambil langkah tegas, Taiwan—resmi Republik China—berulang kali menegaskan hanya rakyatnya yang berhak menentukan masa depan pulau itu.
Negara-negara Barat, termasuk beberapa anggota Uni Eropa, menolak klaim kedaulatan Beijing dan mengakui Selat Taiwan sebagai jalur internasional.
Ketegangan kian memuncak setelah dua latihan militer berskala besar China usai terpilihnya Lai. Retorika keras kedua belah pihak memperlihatkan betapa rapuhnya keseimbangan di Selat Taiwan. Di tengah tekanan politik dan militer, belum ada tanda gencatan retorika, menambah kekhawatiran akan eskalasi konflik yang dapat mengganggu keamanan regional.[dit]
