Pelaku pasar merespons positif perkembangan politik di Washington. Senat AS dilaporkan telah menyetujui rancangan kompromi anggaran yang akan memulihkan pendanaan pemerintahan federal. Rancangan ini selanjutnya akan dibahas di Dewan Perwakilan (House of Representatives). Ketua Dewan AS, Mike Johnson, menyatakan keinginannya untuk segera meloloskan RUU tersebut agar dapat disahkan oleh Presiden Donald Trump.
Ekspektasi Suku Bunga The Fed Menahan Pelemahan
Sentimen positif dari Washington tersebut mendorong penguatan dolar AS secara global. Akibatnya, mata uang di negara-negara berkembang (emerging market), termasuk rupiah, berada di bawah tekanan jual.
Namun, di sisi lain, pelemahan rupiah yang lebih dalam berhasil tertahan oleh katalis domestik dan ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter The Fed. Pelaku pasar kini melihat adanya peluang pemangkasan suku bunga oleh The Federal Reserve (The Fed) pada pertemuan bulan Desember mendatang.
Data CME FedWatch menunjukkan peluang sekitar 61% bahwa The Fed akan memangkas suku bunga acuannya. Prospek suku bunga yang lebih rendah ini berpotensi menekan imbal hasil dolar AS ke depannya, yang dapat memberikan ruang bagi penguatan kembali mata uang emerging market, termasuk rupiah.[dit]
