Sekjen PDIP Gaungkan Pesan Megawati: Kritik Tanaman Sawit dan Merawat Pertiwi untuk Mengatasi Krisis Ekologis

“Bagaimana lingkungan telah dirusak akibat kapitalisasi kekuasaan politik yang luar biasa, sehingga lahan-lahan hutan dikonversi menjadi lahan-lahan sawit. Padahal Ibu Mega mengatakan sawit adalah tanaman yang arogan,” tegasnya.

Ia menyatakan bahwa bencana alam juga merupakan akibat dari ketiadaan keadilan, terutama dalam penguasaan lahan dan tidak adanya penegakan hukum atas tambang ilegal dan pembalakan liar.

“Karena bencana ini akibat tidak adanya keadilan. Akibat eksklusivitas di dalam penguasaan lahan-lahan oleh penguasa. Tidak ada redistribusi aset sebagaimana dicanangkan oleh Bung Karno.”

Sebagai kontemplasi, Hasto merumuskan pantun keadilan:
“Yogyakarta, kota budaya,
Mahakarya Indonesia Raya,
PDI Perjuangan berjiwa kesatria,
Tegakkan keadilan untuk semua.”

Ia menekankan, justice for all harus menjadi tema sentral, baik dalam mengelola partai, bersikap sesama, maupun dalam perspektif hukum.

Sebagai langkah konkret, Hasto menginstruksikan kader di Yogyakarta untuk bergerak serentak membersihkan Kali Code dan Kali Winongo dalam rangka HUT Partai. Ia juga mengajak kader menjadikan kebiasaan Megawati mengumpulkan botol bekas untuk nursery tanaman sebagai tradisi partai.

Solidaritas sosial juga diwujudkan melalui pengumpulan dana yang akan digunakan untuk membantu rakyat terdampak bencana.

Ditutup dengan pantun kedua yang merangkum semangat perjuangan:
“Mewayu Hayuning Bawono,
Falsafah kehidupan penjaga sejarah.
PDI Perjuangan membangun tekad bersama,
Merawat pertiwi panggilan hidup kita.”

Hasto berkeyakinan, dengan menginternalisasi filosofi menghargai kehidupan dan memperjuangkan keadilan ekologis, kader PDIP dapat menjadi bagian dari solusi mengatasi ketidakseimbangan alam.