Menguji Klaim Prabowo Soal Mbg Membuka 1 Juta Lapangan Kerja

Presiden Indonesia, Prabowo Subianto/(instagram)

Jika komposisi pekerja per dapur dibedah lebih jujur, sekitar 40-55 persen dapat dikategorikan sebagai pekerja benar-benar baru.

Sisanya adalah pekerja pindahan, alih fungsi, atau tenaga semu. Dengan asumsi moderat 35 pekerja per dapur, total pekerja bruto MBG berada di kisaran 760 ribu orang.

Setelah dikoreksi berdasarkan status kerja, jumlah lapangan kerja baru yang benar-benar tercipta kemungkinan hanya sekitar 350-450 ribu. Angka ini tetap signifikan, tetapi jelas jauh dari satu juta.

Pembongkaran ini juga sejalan dengan data makro ketenagakerjaan yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS).

Sepanjang satu tahun terakhir, total penambahan penduduk bekerja secara nasional hanya sekitar 1,9 juta orang.

Jika MBG benar-benar menciptakan satu juta lapangan kerja baru, maka lebih dari separuh seluruh pekerjaan baru di Indonesia dalam setahun harus berasal dari satu program tunggal.

Klaim ini menempatkan MBG sebagai mesin pencipta kerja yang mengalahkan gabungan sektor industri, perdagangan, pertanian, dan jasa.

Sebuah posisi yang tidak tercermin dalam struktur ekonomi maupun data pengangguran nasional yang hanya turun tipis.

Di titik inilah angka satu juta “overclaim”. Yang dihitung bukan “pekerjaan baru”, melainkan “orang yang terlibat”. Bukan “net job creation”, melainkan angka bruto tanpa memperhitungkan pekerjaan yang hilang atau berpindah.

Dalam kebijakan publik, perbedaan ini bukan soal teknis kecil, melainkan soal kejujuran intelektual.

Program MBG dapat dan memang menciptakan pekerjaan. Ia membuka peluang bagi tenaga dapur, distribusi, dan logistik di banyak daerah.

Namun membesarkan dampaknya menjadi satu juta lapangan kerja dengan menyatukan pekerja baru, pekerja pindahan, relawan, dan aparatur negara ke dalam satu angka tunggal bukanlah analisis, melainkan narasi.

Dan di titik itulah publik perlu waspada. Ketika angka besar dipakai bukan untuk membuka realitas, melainkan untuk menutupinya.

Jika pemerintah yakin pada dampak MBG, seharusnya yang dibuka bukan klaim, melainkan data mikro berapa pekerja baru per dapur, berapa yang bergaji penuh, berapa yang bertahan lebih dari enam bulan.

Tanpa itu, angka satu juta akan terus bergaung bukan sebagai fakta yang bisa diverifikasi, melainkan sebagai slogan pencitraan.[***]

Oleh: Hamdi Putra, Forum Sipil Bersuara (FORSIBER) dan Mantan Jurnalis Media Arus Utama Nasional.