Bukan karena pejabatnya malaikat, tapi karena sistemnya bikin maling kehabisan akal dan alibi.
Anehnya, negara ini justru santai menghadapi kritik. Rakyat boleh ngoceh, nyinyir, kritik, bahkan bikin meme pemimpin.
Karena pemimpin tahu, kalau tak kuat ditertawakan, jangan bercita-cita memimpin.
Pemimpin di negara ini bukan dewa. Ia pekerja kontrak. Ada masa jabatan, ada batas wewenang. Setelah turun, tak perlu patung, cukup pulang kampung.
Baliho dikurangi, foto wajah tak lagi menghantui tikungan jalan. Tak ada lagi, siap mati-matian.
Ekonomi jalan karena kerja, bukan karena kedekatan. Orang kaya boleh kaya, asal tak beli hukum pakai kuitansi. Orang miskin dibantu bukan dengan janji, tapi akses.
Pendidikan mengajarkan berpikir, bukan tepuk tangan. Media bebas, rakyat kritis, negara tak baper.
Lalu datang pertanyaan penutup sambil senyum miring, apakah negara utopia ini nyata, atau cuma mimpi habis makan pedas?
Jawabannya begini, utopia itu memang tak pernah ada. Ia bukan alamat, tapi cermin.
Ia diciptakan bukan untuk dihuni, tapi untuk menyindir kita setiap kali kita bilang, “Ah, begini juga sudah lumayan.”
Masalah Indonesia sering bukan karena utopia terlalu tinggi, tapi karena kita cepat puas pada yang setengah-setengah.
Kita punya hukum, tapi sering salah sasaran.
Kita bangga kebebasan bicara, tapi cepat tersinggung. Kita ketawa melihat Korea Utara, sambil pelan-pelan mempraktikkan versi trial-nya.
Versi Koptagulnya begini, wak:
Lebih baik negara ribut tapi hidup, dari pada tenang tapi pura-pura bahagia.
Lebih baik pemimpin dimeme-in, dari pada rakyat dilatih untuk diam atau dibodohi.
Kita sering mimpi keadilan, tapi dianggap kebanyakan halu.
Padahal, sebenarnya yang sedang tidur pulas bukan rakyat, tapi nurani negara.
Baca Juga: Ketegangan Asia Timur: Korea Utara Uji Coba Rudal Hipersonik Terbaru
Oleh : Rosadi Jamani (Ketua Satupena Kalbar)











