“Indonesia bukan sekadar school meal, tetapi school meal plus karena memikirkan yang 3B,” jelas Sony.
Perubahan Pola Pikir Nutrisi Masyarakat
Selain pemenuhan kebutuhan fisik, Program Makan Bergizi Gratis juga berhasil membawa perubahan pola pikir yang signifikan pada masyarakat Indonesia.
Anak-anak di berbagai daerah, mulai dari wilayah pedesaan hingga metropolitan, kini mulai memahami komposisi makanan yang sehat dan seimbang.
Masyarakat kini lebih memperhatikan keberadaan empat unsur penting dalam setiap porsi makanan, yaitu karbohidrat, protein, serat, dan vitamin.
Sosialisasi yang masif melalui program ini secara tidak langsung memberikan edukasi gizi yang merata dari Aceh hingga Papua.
“Pola pikir masyarakat Indonesia berubah, yang tadinya tidak memperhatikan apa saja unsurnya, sekarang anak-anak sudah mulai melihat, dari Aceh sampai Papua, dari desa sampai metropolitan, bahwa makan itu isinya empat unsur: karbohidrat, protein, serat, dan vitamin,” pungkas Sony.
Diharapkan dengan sinergi antara SPPG, mitra, dan kader kesehatan di lapangan, distribusi nutrisi dapat berjalan tepat sasaran.
Keberhasilan program ini akan menjadi fondasi kuat bagi ketahanan pangan dan kesehatan masyarakat Indonesia dalam dekade mendatang.
Baca Juga: DPR Dukung BGN Beri Sanksi SPPG yang Tak Libatkan UMKM dan Petani Lokal











