FAKTANASIONAL.NET – PT Pertamina (Persero) mulai memetakan jalur ekspansi global untuk produk bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau Sustainable Aviation Fuel (SAF).
Perusahaan energi pelat merah ini menargetkan pasar Eropa dan Asia-Pasifik sebagai tujuan utama ekspor, seiring dengan meningkatnya tekanan dekarbonisasi di industri penerbangan internasional.
Dalam diskusi panel di ISCC Global Sustainability Conference 2026 di Brussel, Belgia, Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, menegaskan bahwa Indonesia kini memposisikan diri sebagai penyedia solusi dekarbonisasi, bukan sekadar pasar konsumsi.
Standardisasi Internasional dan Rantai Pasok
Guna menembus pasar ketat seperti Eropa, Pertamina mengandalkan sertifikasi International Sustainability and Carbon Certification (ISCC). Sertifikasi ini krusial untuk memastikan bahwa bahan baku yang digunakan—seperti minyak jelantah (used cooking oil)—memenuhi standar akuntansi karbon dunia.
Baca Juga: Pertamina Raih Dua Penghargaan Internasional Golden Peacock Global CSR Award 2025
“Fokus kami bukan hanya pada produksi SAF, tetapi juga pada pembangunan ekosistem SAF yang kredibel, terukur, dan diakui secara global, serta menghubungkan pengumpulan bahan baku tingkat komunitas di Indonesia dengan pasar penerbangan internasional,” ujar Agung dalam forum tersebut.
Agung menambahkan bahwa strategi ini merupakan bagian dari model dual-growth, yakni mengoptimalkan kilang minyak yang ada sembari membangun lini bisnis rendah karbon.
“Di Pertamina, SAF bukanlah inisiatif yang berdiri sendiri, melainkan implementasi langsung dari strategi dual-growth kami, yaitu memaksimalkan aset kilang warisan sambil membangun bisnis rendah karbon yang dapat dikembangkan,” jelasnya.
Validasi Teknis dan Target 2029
Saat ini, SAF Pertamina diproduksi melalui metode co-processing di Green Refinery Cilacap dengan kandungan campuran 2,4%. Meski masih dalam skala pengembangan, produk ini telah melalui uji teknis pada pesawat komersial Airbus A320-200.









