Fakta Nasional

Menlu Iran Bantah Klaim Donald Trump Terkait Kematian Ayatollah Khamenei

FAKTANASIONAL.NET - Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi , memastikan bahwa Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dalam kondisi selamat menyusul gelombang serangan udara yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel. Pernyataan ini sekaligus m…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Jessy Serianda Editor: Redaksi 📍 Nasional Tuesday, 03 March 2026 📖 1 menit
Menlu Iran Bantah Klaim Donald Trump Terkait Kematian Ayatollah Khamenei
Menteri Luar Negeri Iran - Abbas Araghchi. (Dok. Teheran Times)

FAKTANASIONAL.NET - Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memastikan bahwa Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dalam kondisi selamat menyusul gelombang serangan udara yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel.

Pernyataan ini sekaligus membantah klaim Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya menyebut Khamenei telah tewas dalam operasi militer tersebut.

Araghchi menegaskan bahwa struktur kepemimpinan dan pejabat tinggi Iran hampir seluruhnya tidak terdampak oleh serangan gabungan tersebut.

“Sejauh yang saya tahu, hampir semua pejabat selamat dan sehat. Kita mungkin kehilangan satu atau dua komandan, tetapi itu bukan masalah besar," ujar Araghchi dalam wawancara dengan NBC News, Sabtu (28/2/2026).

Baca Juga: Perkara AS Turut Serang Iran, Indonesia Harusnya Tarik Diri dari Board of Peace?

Menanggapi upaya Amerika Serikat yang mengisyaratkan adanya perubahan rezim di Teheran, Araghchi menyebut hal tersebut sebagai misi yang mustahil karena besarnya dukungan publik terhadap pemerintah saat ini. Ia juga mengecilkan dampak kerusakan infrastruktur militer Iran dan mengeklaim pasukannya mampu melakukan serangan balasan dalam waktu kurang dari dua jam.

"Misi Mustahil. Anda tidak bisa melakukan perubahan rezim sementara jutaan orang mendukung rezim yang disebut-sebut ini,” tegasnya.

Di sisi lain, Araghchi mengecam keras serangan yang menghantam sebuah sekolah dasar perempuan di Kota Minab, Provinsi Hormozgan. Laporan awal menyebutkan sedikitnya 40 orang tewas dalam insiden tersebut.

Ia menilai tindakan itu sebagai pelanggaran berat terhadap hukum internasional.

Dalam kesempatan yang sama, Araghchi memberikan klarifikasi mengenai spekulasi pengembangan rudal jarak jauh Iran. Ia menyatakan bahwa Teheran secara sengaja membatasi jangkauan rudal mereka demi kepentingan pertahanan regional, bukan untuk agresi global.

"Tidak, tidak, kami tidak memiliki kemampuan seperti itu. Kami sengaja menjaga jangkauan rudal kami di bawah 2.000 kilometer. Rudal kami hanya untuk pencegahan dan pertahanan," jelasnya.

Situasi di kawasan semakin memanas setelah Israel meluncurkan operasi militer bertajuk “Lion’s Roar”, yang kemudian diikuti oleh pernyataan Donald Trump mengenai operasi tempur besar-besaran di wilayah Iran.

Eskalasi ini terjadi di tengah kebuntuan negosiasi program nuklir antara Washington dan Teheran yang dimediasi oleh Oman di Jenewa.


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK