Antisipasi Kemarau Maret, Pemerintah Gelar Apel Siaga Karhutla dan Operasi Modifikasi Cuaca di Riau

Menko Polkam Jenderal TNI (Purn) Djamari Chaniago, Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto, S.Sos., M.M., dan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengecek kesiapan pasukan yang akan terlibat dalam operasi penanganan karhutla pada Apel Kesiapsiagaan Karhutla di Lanud Roesmin Nurjadin, Kota Pekanbaru, Provinsi Riau pada Kamis (5/3). (Dok. Ist)

“Kami sudah melaksanakan OMC. Ketika masih ada pertumbuhan awan hujan, paling efektif efisien apabila ada kebakaran didatangkan hujan, api bisa padam,” tuturnya.

Namun, jika kondisi semakin kering, pemerintah akan menggeser tumpuan kekuatan pada Satgas Darat dan dukungan udara.

“Jika curah hujan semakin kurang karena masuk musim kemarau, susah didatangkan lagi hujan lewat OMC, ada Satgas Darat sudah bekerja, telah terbentuk Satgas Darat gabungan TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni dan masyarakat. Mereka sudah memiliki peralatan,” jelas Suharyanto.

Sebagai langkah pamungkas, pemerintah menyiagakan armada helikopter jika api sulit dijangkau.

“Upaya terakhir jika OMC dan Satgas tidak bisa dilakukan karena api terlanjur besar, kita dukung dengan operasi helikopter water bombing,” tambahnya.

Fokus pada Enam Provinsi Prioritas

Sesuai Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2020, terdapat enam provinsi yang menjadi fokus utama penanganan karhutla, yakni Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

Hingga saat ini, Riau menjadi provinsi pertama yang merespons dengan meminta bantuan pusat.

“Sampai awal Maret ini baru Provinsi Riau yang meminta bantuan kepada pemerintah pusat, sehingga hari ini Pak Menko Polkam hadir di Riau memimpin langsung,” kata Suharyanto.

Apel siaga ini melibatkan sedikitnya 1.000 personel gabungan serta pameran alat pemadaman, termasuk pesawat Cessna untuk operasi cuaca dan berbagai jenis helikopter patroli.