Orasi Dasco di ITB: Persatuan Sipil Jadi Penentu Kesuksesan Arus Baru ‘Prabowonomics’

/Dok. Ist

FAKTANASIONAL.NET – Aula Barat Institut Teknologi Bandung (ITB) berubah menjadi arena pergulatan gagasan yang tajam pada Kamis sore (5/3/2026).

Di bawah sorotan lampu gedung bersejarah tersebut, ratusan aktivis lintas generasi, akademisi, dan pejabat negara berkumpul untuk membedah karya terbaru Syahganda Nainggolan bertajuk “Menggugat Republik”.

Puncak acara ditandai dengan pidato pamungkas Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad. Dalam orasinya, Dasco menyoroti kegelisahan mendasar yang tertuang dalam buku tersebut mengenai distribusi keadilan ekonomi dalam sistem demokrasi.

“Buku ini sangat kritis. Ia lahir dari kegelisahan mendasar: demokrasi bisa berjalan secara prosedural, tapi belum tentu manfaat pembangunan terdistribusi secara adil. Demokrasi juga meniscayakan keadilan, terutama keadilan ekonomi. Tanpa itu, kohesi sosial kita bisa tergerus,” tegas Dasco di hadapan hadirin.

Dasco juga melemparkan tantangan balik kepada masyarakat sipil mengenai komitmen persatuan nasional dalam mengawal transisi kepemimpinan saat ini.

“Berapa lama waktu yang diperlukan agar masyarakat sipil bersatu, menguatkan persatuan nasional, agar Prabowo punya waktu menunaikan janji-janjinya?” ujarnya.

Prabowonomics: Antara Ideologi Kerakyatan dan Industrialisasi

Baca Juga: Terima Kunjungan PM Australia, Prabowo Usulkan Mobilitas SDM dan Pendidikan

Penulis buku, Syahganda Nainggolan, menjelaskan bahwa istilah Prabowonomics yang ia tawarkan merupakan kelanjutan dari nafas ideologi kerakyatan Soekarno yang ia rasakan mengalir dalam visi Presiden Prabowo Subianto.

“Cuma Soekarno dan Prabowo yang saya rasakan sebagai pemimpin dengan ideologi kerakyatan yang kuat. Hingga di atas 70 tahun usianya, jiwa kerakyatan Prabowo tidak pernah bisa diragukan,” kata aktivis jebolan ITB tersebut.

Diskusi semakin memanas ketika para panelis mulai membedah aspek teknis dari arah ekonomi baru ini: