SWF Norwegia, misalnya, dalam jangka panjang mampu mencatat return sekitar 6–7 persen. Temasek di Singapura juga berada dalam kisaran yang tidak jauh berbeda.
Dengan demikian, jika target pemerintah adalah ROA 10 persen, maka tantangan yang dihadapi Danantara masih sangat besar.
Untuk mencapai angka tersebut dengan aset sekitar Rp16.475 triliun, lembaga ini harus mampu menghasilkan laba lebih dari Rp1.600 triliun per tahun, hampir lima kali lipat dari laba yang disebutkan saat ini.
Target tersebut bukan sekadar soal efisiensi, tetapi juga menyangkut kualitas investasi, tata kelola, dan kemampuan memilih proyek yang benar-benar produktif.
Dalam konteks ini, yang lebih penting daripada sekadar angka lonjakan awal adalah keberlanjutan kinerja. Banyak lembaga investasi negara di berbagai negara menunjukkan lonjakan kinerja pada fase awal restrukturisasi aset atau konsolidasi laporan keuangan.
Namun setelah fase tersebut lewat, kinerja biasanya kembali ke level yang lebih stabil dan realistis. Ujian sebenarnya justru terletak pada kemampuan mempertahankan return yang konsisten dari tahun ke tahun.
Karena itu, publik seharusnya tidak terlalu terpukau oleh statistik yang terdengar spektakuler tanpa melihat basis perhitungannya.
Dalam ekonomi, angka yang besar sering kali hanya mencerminkan titik awal yang kecil. Kenaikan 300 persen mungkin terdengar impresif, tetapi jika hasil akhirnya baru sekitar 2 persen, maka cerita yang sesungguhnya adalah bahwa perjalanan menuju target masih sangat panjang.
Bagi Danantara, yang akan menentukan reputasinya bukanlah lonjakan persentase pada tahun pertama, melainkan kemampuan menciptakan return investasi yang stabil, transparan, dan bebas dari intervensi politik.
Jika hal itu berhasil dicapai, maka lembaga ini benar-benar dapat menjadi mesin penggerak kekayaan negara. Namun jika tidak, angka-angka impresif di awal hanya akan menjadi catatan statistik yang cepat terlupakan.[***]
Penulis: Hamdi Putra, Forum Sipil Bersuara (FORSIBER)











