Tensi Timur Tengah Memanas: Harga Minyak Dunia Tembus 100 Dolar AS Akibat Blokade Selat Hormuz

Harga Minyak Mentah Dunia Naik Signifikan/(ilustrasi/@pixabay)

“Minyak Rusia itu sebenarnya sudah dikirim ke pembeli. Kebijakan ini tidak menambah pasokan baru, tetapi hanya mengurangi hambatan distribusi,” jelas Schieldrop.

Cadangan Strategis vs Ancaman Ranjau Laut

Selain melonggarkan aturan minyak Rusia, Departemen Energi AS berencana melepas 172 juta barel minyak dari cadangan strategis (SPR), berkoordinasi dengan International Energy Agency (IEA) yang totalnya mencapai 400 juta barel.

Meski demikian, pasar tetap skeptis. Pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, justru mempertegas sikap konfrontatifnya.

Ia menyatakan penutupan Selat Hormuz adalah senjata politik utama mereka.

“Negara akan terus berperang dan mempertahankan penutupan Selat Hormuz sebagai alat tekanan terhadap AS dan Israel,” tegas Khamenei.

Kondisi diperparah dengan laporan intelijen yang menyebut Iran telah menanam sekitar selusin ranjau laut di selat tersebut, ditambah serangan perahu peledak terhadap dua kapal tanker di Irak yang memaksa pelabuhan minyak setempat berhenti beroperasi.

Proyeksi Pasar ke Depan

Presiden AS Donald Trump memberikan pandangan yang kontradiktif mengenai situasi ini.

Di satu sisi, kenaikan harga menguntungkan posisi AS sebagai produsen, namun fokus utamanya tetap pada isu nuklir.

“Harga minyak yang naik memang bisa memberikan keuntungan bagi Amerika. Namun, tujuan utama negara tetap mencegah Iran memperoleh senjata nuklir,” kata Trump.

Bank investasi Goldman Sachs memperkirakan volatilitas ini akan terus berlanjut.

Brent diprediksi akan bertahan di atas rata-rata 100 Dolar AS sepanjang Maret, sebelum kemungkinan turun ke level 85 Dolar AS pada April mendatang, tergantung pada perkembangan situasi keamanan di Selat Hormuz.

Exit mobile version