FAKTANASIONAL.NET – Eskalasi konflik di Timur Tengah yang meletus sejak akhir Februari 2026 kini memasuki babak baru yang melumpuhkan infrastruktur digital dunia.
Serangan drone dan rudal Iran yang menargetkan pusat data di wilayah Teluk dilaporkan telah menciptakan kekacauan internet serta mengganggu sistem pertahanan Amerika Serikat (AS).
Pakar teknologi dari Nanyang Technological Institute, Prof. Sulfikar Amir, menilai bahwa manuver Iran telah melampaui prediksi intelijen Barat.
Keberanian Iran dalam menantang supremasi militer AS dianggap sebagai fenomena politik yang signifikan.
“Dan Iran sebagai suatu kekuatan politik itu menarik untuk dicermati karena ini adalah salah satu dari sedikit negara negara non-barat yang berani melawan kekuatan dan supremasi militer Amerika Serikat,” ujar Sulfikar dikutip dalam kanal YouTube Forum Keadilan TV, Minggu (15/3/2026) malam.
Kegagalan Prediksi AS dan Israel
Memasuki minggu kedua pertempuran, indikasi kewalahan di pihak sekutu semakin terlihat. Menurut Sulfikar, Iran berhasil memanfaatkan celah keamanan yang selama ini dianggap aman oleh AS dan Israel.
“Dan menariknya selama lebih dari satu minggu, sekarang sudah mungkin hampir dua minggu ya peperangan militer dimulai, kita bisa melihat indikasi bagaimana Amerika Serikat dan Israel itu kewalahan sebenarnya menghadapi kekuatan Iran yang tidak mereka prediksi,” tambahnya.
Iran kini memperluas jangkauan serangannya ke negara-negara yang tergabung dalam Gulf Cooperation Council (GCC).
Strategi ini sengaja dipilih untuk menyerang “jantung” kepentingan ekonomi AS di kawasan tersebut melalui penghancuran infrastruktur kritis.











