Kabar ini kontras dengan klaim Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, yang sebelumnya menyatakan bahwa sistem pertahanan udara Iran telah dilumpuhkan total.
Kejadian ini menarik perhatian dunia karena F-35 Lightning II bukan sekadar pesawat biasa. Diproduksi oleh Lockheed Martin, jet ini dirancang dengan teknologi stealth untuk mengelabui radar dan menjalankan berbagai peran mulai dari pengintaian hingga peperangan elektronik.
Sebagai tulang punggung kekuatan udara NATO dan Israel, keberhasilan Iran “menyentuh” jet ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai efektivitas teknologi siluman dalam menghadapi pertahanan udara modern yang terus berkembang.
Hingga saat ini, penyelidikan masih berlangsung untuk menentukan apakah kerusakan disebabkan oleh rudal darat-ke-udara atau sistem peperangan elektronik. Yang pasti, insiden 19 Maret ini akan mengubah peta strategi militer AS di Timur Tengah dalam beberapa waktu ke depan.[dit]










