Hadapi Kemarau, Kementan Dorong Teknologi AWD: Hemat Air 20% Tanpa Kurangi Hasil Padi

/Dok. Kementan

“Berdasarkan hasil pengujian selama enam musim tanam, melalui teknik AWD ini, kelangkaan air di lahan sawah dapat ditekan, bahkan dihindari. Teknologi ini dapat menghemat penggunaan air irigasi 17-20%,” ucapnya.

Cara Kerja Sederhana: Pipa Paralon sebagai “Piezometer”

Analis BRMP Lingkungan Pertanian, Ali Pramono, memaparkan bahwa penerapan AWD menggunakan alat pantau yang sangat sederhana namun akurat, yakni pipa paralon yang dilubangi dan dibenamkan ke dalam tanah.

“Pengamatan kondisi air dilakukan menggunakan alat sederhana berupa pipa paralon berdiameter 10-15 cm dengan panjang 30-100 cm yang dilubangi di semua sisinya dan dibungkus kain kassa kemudian dibenamkan hingga tersisa 10 cm – 20 cm di atas permukaan tanah. Pipa ini memiliki prinsip kerja seperti piezometer sederhana,” tutur Ali.

Petani cukup memantau kedalaman air di dalam pipa tersebut untuk menentukan kapan saatnya mengairi kembali sawah mereka.

“Pengairan kembali umumnya dilakukan ketika muka air di dalam pipa telah turun hingga kisaran 10–15 cm di bawah permukaan tanah, kemudian air diberikan kembali dalam jumlah terbatas hingga tinggi muka air 3-5 cm untuk menjaga kelembapan tanah,” tambah Ali.

Dampak Positif bagi Akar dan Tanah

Metode ini tidak hanya menghemat air, tetapi juga memperbaiki struktur tanah dan memperkuat perakaran padi, sehingga tanaman lebih tangguh terhadap cekaman cuaca ekstrem.

“AWD tidak sekadar menjadi teknik pengairan, tetapi juga bagian dari strategi mitigasi yang memperkuat ketahanan sistem produksi padi,” tutup Ali.

Dengan penerapan Climate Smart Agriculture ini, pemerintah optimis produktivitas padi nasional tetap terjaga meski tantangan iklim semakin berat.