Pelemahan nilai tukar Dolar AS selama dua hari berturut-turut membuat emas menjadi lebih terjangkau bagi pemegang mata uang lain. Alhasil, permintaan meningkat tajam dan mendorong grafik harga ke zona hijau secara konsisten.
Fokus investor kini tertuju pada spekulasi de-eskalasi konflik di Selat Hormuz. Meski ada bantahan dari pihak Iran terkait klaim gencatan senjata, pasar tetap optimis.
Analis Senior Bob Haberkorn memprediksi emas berpotensi menembus level 5.000 Dolar AS jika tren perdamaian ini membuka peluang penurunan suku bunga oleh The Fed.
Jika inflasi mereda akibat turunnya harga energi, emas diprediksi akan semakin berkilau sepanjang tahun 2026. Saat ini, logam mulia lainnya seperti perak dan platinum juga terpantau kompak menguat mengikuti jejak emas.[dit]











