FAKTANASIONAL.NET – Pernyataan Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo terkait gaya kepemimpinan di lingkungan birokrasi di lingkungan Kementerian PU dinilai mengandung kontradiksi dan memicu perdebatan. Pasalnya, pernyataan yang disampaikan dalam diskusi bersama media tersebut ia meminta publik tidak berprasangka buruk terhadap pegawai Kementerian Pekerjaan Umum, namun di sisi lain justru melontarkan pernyataan yang dinilai merendahkan generasi muda aparatur sipil negara (ASN).
“Jadi tidak boleh kita suudzon ke seluruh instansi PU bajingan semua, ya tidak boleh begitu. Kita harus selalu berpikiran baik. Apalagi Kementerian PU termasuk salah satu kementerian tertua, harus kita jaga marwahnya,” kata Dody dalam diskusi yang berlansung, Kamis (2/4/2026) Ia juga menegaskan bahwa masih banyak pegawai di kementerian tersebut yang memiliki integritas.
Namun setelah itu, ia melontarkan kalimat merendahkan yang memukul rata seluruh generasi muda Kementerian PU. “Hari ini menurut saya, generasi muda PU sudah agak konslet sedikit otaknya. Nah itu harus saya cuci. Generasi muda PU hari ini menurut saya akan berlomba-lomba mencuri uang APBN untuk bisa mendapatkan jabatan eselon 1, 2, 3 secepat-cepatnya. Nah, itu tidak boleh,” kata Dody.
Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, Rijadh Djatu Winardi menilai penggunaan bahasa yang merendahkan dalam konteks kepemimpinan publik tidak mencerminkan pendekatan yang konstruktif. Di satu sisi ia meminta publik tidak berprasangka buruk terhadap pegawai Kementerian PU, namun di sisi lain ia sendiri melabeli generasi muda kementerian dengan tudingan serius yang bahkan bisa dianggap sebagai penghinaan.
“Menurut saya penggunaan bahasa seperti itu kurang tepat dalam konteks kepemimpinan organisasi publik. Meskipun mungkin dimaksudkan sebagai peringatan keras atau semacam shock therapy, pernyataan yang menggeneralisasi seperti itu justru berisiko menimbulkan dampak yang tidak diinginkan,” kata Rijadh dalam keterangannya yang dikutip redaksi, Selasa (7/4/2026).











