Perspektif ini tidak sepenuhnya keliru, namun cenderung berorientasi jangka pendek dan lebih menekankan pada kapasitas pemerintah dalam mengelola variabel internal, dibandingkan dengan mempertimbangkan tekanan eksternal yang berada di luar kendali langsung.
Perbedaan antara kedua pandangan tersebut pada dasarnya merepresentasikan dikotomi klasik antara optimisme kebijakan domestik dan kehati-hatian berbasis risiko global.
Dalam kerangka epistemologis, klaim bahwa suatu proyeksi “salah hitung” menjadi problematis apabila tidak disertai dengan pembongkaran terhadap struktur model, variabel yang digunakan, serta asumsi dasar yang mendasarinya.
Tanpa itu, kritik tersebut lebih tepat dipahami sebagai perbedaan preferensi terhadap skenario ekonomi, bukan sebagai koreksi terhadap kesalahan kalkulasi.
Dengan demikian, pernyataan bahwa proyeksi Bank Dunia keliru tidak memiliki landasan metodologis yang kuat, melainkan lebih merupakan refleksi dari perbedaan cara pandang dalam membaca ketidakpastian ekonomi.
Dalam analisis makro, akurasi proyeksi tidak semata ditentukan oleh kedekatan angka terhadap realisasi, tetapi oleh konsistensi logika model dan kelengkapan variabel yang dipertimbangkan.
Oleh karena itu, perdebatan ini seharusnya tidak berhenti pada klaim benar atau salah, melainkan diarahkan pada evaluasi kritis terhadap asumsi-asumsi yang digunakan dalam membentuk proyeksi tersebut.
*Jakarta, 10 April 2026*
*HAMDI PUTRA*
*Forum Sipil Bersuara (FORSIBER)*











