Uniknya, emas kini kehilangan pola tradisionalnya; ia tidak lagi dicari saat ketakutan perang memuncak, melainkan lebih responsif terhadap proyeksi inflasi dan stabilitas ekonomi global.
Faktor utama yang menekan emas adalah pernyataan Presiden Chicago Fed, Austan Goolsbee, mengenai potensi penundaan pemangkasan suku bunga hingga tahun 2027 jika harga minyak tetap tinggi.
Saat ini, peluang penurunan bunga di tahun 2026 kian menipis hingga tersisa 32 persen saja. Suku bunga tinggi adalah musuh utama emas karena meningkatkan biaya peluang memegang aset tanpa bunga.
Akibatnya, aliran dana investor mulai berpindah ke instrumen lain yang menawarkan imbal hasil lebih pasti di tengah ketidakpastian kebijakan Fed.
Koreksi ini mencerminkan realitas pasar yang pragmatis: ketika risiko perang mereda dan bunga tetap tinggi, emas harus rela kehilangan kilaunya di hadapan para spekulan dan institusi besar.[dit]











