Mengapa UEA Jadi Target Utama Hujan Rudal Iran? Fakta Mengejutkan di Balik Perang Asimetris
FAKTANASIONAL.NET - Gempuran udara masif yang diarahkan militer Iran ke wilayah Uni Emirat Arab (UEA) dalam beberapa hari terakhir membuka babak baru dalam eskalasi geopolitik Timur Tengah. Berdasarkan analisis Pengamat Geopolitik Internasional, Ten…
Dengarkan Ringkasan
FAKTANASIONAL.NET - Gempuran udara masif yang diarahkan militer Iran ke wilayah Uni Emirat Arab (UEA) dalam beberapa hari terakhir membuka babak baru dalam eskalasi geopolitik Timur Tengah.
Berdasarkan analisis Pengamat Geopolitik Internasional, Tengku Zulkifli Usman, melalui publikasi Facebook-nya, Iran meluncurkan rudal balistik, misil jelajah, dan drone tempur ke UEA sebanyak empat kali berturut-turut dalam kurun tiga hari.
Meski secara diplomatis Iran mengaburkan fakta serangan ini untuk menghindari eskalasi formal dengan AS, Teheran kini secara de facto melabeli UEA sebagai negara musuh utama, setara dengan status Israel dan Amerika Serikat.
Tindakan asimetris ini digerakkan oleh alasan taktis. UEA diidentifikasi oleh Teheran sebagai pusat komando militer, basis operasi intelijen Mossad, serta hub finansial bagi elite AS dan Israel.
Serangan presisi tinggi tersebut dilaporkan telah meluluhlantakkan infrastruktur krusial, meliputi kilang minyak, pusat data, perbankan elit, hingga aset pribadi keluarga Trump di Abu Dhabi, Fujairah, dan Dubai.
Berkat integrasi dengan satelit Rusia dan Tiongkok, navigasi serangan militer Iran terbukti sangat akurat dan mematikan.
Daya hancur yang ditunjukkan militer Teheran telah meruntuhkan hitungan kalkulasi intelijen Barat.
Laporan The New York Times turut memvalidasi bahwa Iran sukses menghajar 228 titik aset berharga milik AS yang tersebar di pangkalan Timur Tengah, serta 38 situs vital di dalam teritori Israel.
Fakta mematikan di lapangan ini memaksa Amerika Serikat untuk mengevaluasi ulang kapabilitas militer balistik Iran yang sebelumnya kerap diremehkan oleh analis CIA.
Yang lebih mengejutkan, masa gencatan senjata dua pekan ini justru dikapitalisasi oleh Iran untuk fase pemulihan senjata.
Berbeda drastis dengan klaim awal CIA dan Mossad yang menyebut cadangan rudal Iran tersisa 50 hingga 75 persen, laporan Intelijen Inggris justru mengungkap data sebaliknya. Kekuatan rudal dan balistik Iran diestimasi melonjak hingga 125 persen akibat perbaikan masif pascaperang.
Strategi tempur yang tak tertebak ini sukses mendesak pemerintahan Trump untuk kembali duduk di meja perundingan guna mencari jalan keluar dari potensi kekalahan perang.[dit]
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.