Selain itu, BNPB menekankan bahwa PRB perlu dipandang sebagai investasi pembangunan jangka panjang yang berkontribusi terhadap ketahanan ekonomi nasional. Pemerintah juga memperkuat dukungan pendanaan melalui pengembangan _pooling fund_ bencana dan investasi PRB.
Sebagai penutup, Raditya jati menekankan pentingnya komitmen, kepemimpinan, dan kolaborasi multipihak dalam mewujudkan ketangguhan berkelanjutan. Konsep tersebut dikembangkan untuk mengintegrasikan agenda _Sendai Framework for Disaster Risk Reduction, Paris Agreement, dan Sustainable Development Goals_ (SDGs) melalui pendekatan yang berpusat pada masyarakat.
Sementara itu, perwakilan King Edward VII Hall, Dr. Shawn Ming Yang Lee dalam sambutannya mengatakan bahwa kunjungan ini bertujuan untuk mempelajari konsep, tata kelola serta tantangan penanggulangan bencana di Indonesia, khususnya peran BNPB dalam membangun ketangguhan bencana di tingkat nasional maupun regional ASEAN.
Terakhir, para mahasiswa selanjutnya menuju ruang Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) untuk mendapatkan penjelasan mengenai sistem pemantauan dan koordinasi penanggulangan bencana di Indonesia, termasuk mekanisme pengumpulan informasi, koordinasi kedaruratan, serta proses pengambilan keputusan saat terjadi bencana.
Kemudian sebanyak 22 mahasiswa yang didampingi tiga fasilitator melanjutkan dengan kunjungan diorama edukasi kebencanaan. Diorama edukasi kebencanaan ini merupakan fasilitas BNPB untuk memberikan sosialisasi dan edukasi bencana kepada masyarakat.
Kunjungan mahasiswa NUS ini bertujuan sebagai kegiatan pembelajaran berbasis pengalaman yang berfokus pada implementasi SDGs, khususnya terkait aksi iklim dan ketangguhan bencana di kawasan Asia Tenggara. Kegiatan bagian dari _Southeast Asia Friendship Initiative_ atau SFI ini diselenggarakan oleh King Edward VII Hall.
