PEMERINTAH melalui Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan pemangkasan anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebesar Rp67 triliun. Dari yang awalnya Rp335 triliun menjadi Rp268 triliun.
Ironisnya, narasi tersebut berpotensi menjadi salah satu gimmick fiskal paling menyesatkan dalam komunikasi ekonomi pemerintah tahun 2026.
Sebab publik digiring seolah-olah pemerintah melakukan penghematan besar dan memangkas program jumbo secara drastis.
Padahal sejak awal struktur riil anggarannya memang hanya sekitar Rp268 triliun.
Sementara Rp67 triliun lainnya lebih tepat disebut sebagai dana cadangan, buffer ekspansi, atau ruang tambahan yang belum tentu digunakan penuh.
Artinya, yang terjadi bukanlah pemotongan terhadap belanja inti, melainkan sekadar tidak mengaktifkan dana cadangan.
Namun istilah yang dipilih justru “dipangkas Rp67 triliun”. Ini menciptakan ilusi disiplin fiskal yang lebih besar daripada realitas sebenarnya.
Masalah utamanya bukan hanya soal istilah, tetapi soal kredibilitas komunikasi ekonomi negara.
Ketika pemerintah sebelumnya mempromosikan angka Rp335 triliun sebagai simbol keseriusan dan skala besar MBG, publik diberi kesan bahwa seluruh angka itu adalah anggaran aktif.
Tetapi saat tekanan fiskal meningkat, rupiah melemah, dan pasar mulai sensitif terhadap ekspansi belanja negara, pemerintah tiba-tiba kembali menggunakan narasi bahwa Rp67 triliun hanyalah cadangan yang “dipangkas”.
