“Kami harapkan agar jika avtur itu naik ada subsidi avtur seperti yang dilakukan oleh beberapa negara, misalnya Malaysia. Kenapa harga avtur naik tapi mereka bisa menstabilkan harga tiket, karena ada subsidi negara kepada avtur,” jelas Saadiah.
Selama ini, menurut pengamatannya, kebijakan subsidi energi di Indonesia masih berfokus pada bahan bakar minyak (BBM) untuk transportasi darat, sementara sektor aviasi belum tersentuh insentif serupa.
“Indonesia subsidinya masih subsidi BBM, belum ada subsidi ke avtur. Sehingga diharapkan ada subsidi dari negara untuk harga avtur agar maskapai tidak kolaps dan tetap bisa melayani masyarakat,” ungkapnya.
Saadiah berharap intervensi pemerintah melalui subsidi avtur ini dapat menjadi jaring pengaman ganda: menjaga daya beli masyarakat agar tetap bisa mengakses penerbangan yang terjangkau, sekaligus melindungi operasional maskapai penerbangan nasional dari risiko kebangkrutan.
“Sehingga pengguna maupun maskapai tidak terbebani, harga bisa distabilkan, dan yang kita harapkan itu bisa turun, jangan naik terus,” pungkasnya.











