Pameran Foto Bulan Bung Karno di Museum Mutatuli Lebak: Baduy Adalah Pancasila yang Hidup

Hasto juga melontarkan kritik tajam terhadap kehidupan demokrasi saat ini. Ia mengutip penelitian Zeitgeist yang menyatakan Indonesia tidak lagi menjadi negara demokrasi karena muncul berbagai bentuk pembungkaman dan demokrasi hanya ptosedural.

“Ketika ada pihak manapun yang mencoba menghancurkan kebebasan kita untuk membela kepentingan rakyat, itu tanda-tanda hadirnya kolonialisme baru dalam sistem sosial politik kita,” tegas Sekjen PDIP tersebut.

Wakil Bupati Lebak, Amir Hamzah, menyampaikan sambutan yang sarat dengan pantun dan pesan moral. Ia memulai dengan berpantun:
“Kerangkeng itu beli gula aren,
Manisnya asli bagaikan madu.
Mari kita buktikan di tempat yang keren:
Pancasila, Indonesia maju!”

Amir Hamzah menyatakan bahwa dirinya berdiri di tempat yang bersejarah, di gedung di mana Multatuli menorehkan pena untuk melawan penindasan terhadap rakyat Lebak. Ia mengaitkan Multatuli, Bung Karno, dan Baduy sebagai tiga warisan Lebak.

“Multatuli melalui pena, Bung Karno melalui pidato, tujuannya sama: menegakkan keadilan. Saya jawab tegas: keduanya pembela yang lemah,” ujar Wabup.

Ia kemudian menambahkan warisan ketiga, yaitu Baduy dengan kejujurannya. Menurutnya, di hati masyarakat Baduy, Pancasila adalah ajaran yang hidup.

“Tidak tertulis di kertas, tetapi dijalankan dalam laku setiap hari. Jujur pada alam, jujur pada janji, jujur pada sesama. Itulah hakikat kejujuran. Baduy adalah Pancasila yang hidup,” kata Amir Hamzah.

Ia juga menyerukan gotong royong untuk membangun jalan ke Baduy, menjadikan museum sebagai “sumber api keberanian untuk berbicara kebenaran”, serta melawan “mental tidak jujur, tidak adil, dan tidak gotong royong.”

“Jangan sekali-kali kita meninggalkan sejarah. Sebab Baduy tidak akan meninggalkan sejarahnya, begitu pula Multatuli tidak akan meninggalkan jejaknya. Karena dua nama itu membuat Pancasila punya wajah dan punya tangan untuk bekerja.”

Acara puncak simbolis pembukaan Pameran Foto, Surat, dan Komik Bung Karno dilakukan dengan membunyikan alat musik celempung yang diikuti oleh suara dari Sanggar Celempung.

Bonnie Triyana ditemani oleh Wakil Bupati Amir Hamzah, Sekjen Hasto Kristiyanto, serta anggota DPP PDI Perjuangan menuju ke Pendopo Museum Multatuli.

Rangkaian pembukaan ditutup dengan potong tumpeng dan foto bersama.

Exit mobile version