125 Tahun Bung Karno, Megawati dan GKR Hemas Buka Pameran Seni Rupa “Mata Hati Soekarno” di Yogya

Kurator pameran, Suwarno Wisetrotomo, menjelaskan panitia menantang perupa untuk menggali, menemukan, memilih sudut pandang, cara pandang, dan cara ungkap dalam melihat, memahami, meresepsi sosok paling ikonik dalam sejarah Indonesia yakni Bung Karno.

Mengolah dan mewujudkan tema “Mata Hati Soekarno” sesungguhnya tidak mudah karena para perupa atau para seniman atau para pelukis ini sebagian besar dari generasi 1990-an.

Melalui lukisan, karya grafis, dan gambar, mereka berupaya membaca kembali perjalanan hidup, gagasan, serta jejak kebangsaan yang diwariskan Bung Karno kepada bangsa Indonesia.

Menurut Suwarno, Bung Karno merupakan figur yang tidak pernah habis untuk dibaca dan dimaknai ulang.

“Bung Karno adalah air, tanah, angin, dan api menghidupi, menumbuhkan, menebarkan, dan menyalakan harapan dari waktu ke waktu sampai hari ini. Lebih dari setengah abad sepeninggal Bung Karno, ia adalah inspirasi yang tak pernah redup,” lanjutnya.

Karena itu, pameran ini tidak sekadar menghadirkan karya seni, tetapi juga membuka ruang dialog publik mengenai relevansi pemikiran dan nilai-nilai yang diwariskan oleh Presiden Pertama Republik Indonesia tersebut.

“Merayakan Bung Karno dengan seni lukis sungguh bukan kebetulan. Ini perayaan yang tepat, karena teman-teman di berbagai belahan negara mengenal Indonesia, mengenal Bung Karno dari dekat, salah satunya adalah dari lima jilid buku yang diinisiasi beliau, yang diterbitkan dan belum pernah ada tandingannya sampai hari ini,” katanya.

Pameran ini menjadi salah satu rangkaian kegiatan peringatan 125 tahun kelahiran Bung Karno yang digelar di Yogyakarta, sekaligus menegaskan bahwa pemikiran, perjuangan, dan warisan intelektual Sang Putra Fajar tetap hidup dan relevan bagi generasi Indonesia masa kini maupun masa depan.

Exit mobile version