“Ketika aktivitas pelayaran dunia melintas di dekat wilayah kita, Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton. Kita harus mampu menyediakan layanan yang kuat, andal, dan bernilai tambah bagi kepentingan nasional,” jelas Achmad.
Selain memberikan kontribusi ekonomi, penguatan layanan maritim juga berperan penting dalam meningkatkan keselamatan pelayaran dan perlindungan lingkungan laut.
Mengingat tingginya lalu lintas kapal di Selat Malaka, tata kelola layanan yang baik diperlukan untuk meminimalkan risiko kecelakaan serta potensi tumpahan minyak (oil spill) yang dapat mencemari perairan Indonesia.
“Penguatan layanan pandu, tunda, dan layanan maritim lainnya bukan semata-mata soal bisnis. Ini juga menyangkut keselamatan pelayaran, perlindungan lingkungan, dan kehadiran negara dalam menjaga ruang maritimnya,” tambah Achmad.
Pengembangan Kawasan Nipa
Sebagai langkah konkret, Pelindo terus mengembangkan ekspansi layanan maritim di kawasan strategis. Salah satunya dilakukan melalui pengoperasian Nipa Transfer Anchorage Area (NTAA) di Perairan Nipa, Kepulauan Riau, yang telah berjalan sejak Mei 2026 untuk mendukung aktivitas di sekitar Selat Malaka.
Di sisi lain, Achmad menekankan bahwa penguatan ekosistem maritim ini harus berjalan selaras dengan peningkatan kapasitas dan penyerapan tenaga kerja pelaut domestik.
“Pelaut Indonesia memiliki kompetensi dan ketangguhan yang telah diakui. Karena itu, penguatan ekosistem maritim nasional harus sekaligus menjadi ruang bagi pelaut Indonesia untuk mengambil peran yang lebih besar, baik di dalam negeri maupun di kawasan strategis internasional,” pungkasnya.
Baca Juga: Pontianak Genjot Proyek SPALD-T hingga 2030, PDAM Disiapkan Kelola Limbah Domestik Selain Air Bersih











