Opini  

Dulu Kerbau Diajak Demo, Kali Ini Kepala Kerbau Diinjak

Viral Mirip Rambut Donald Trump, Kerbau Albino Langka Selamat dari Ritual Kurban/(Foto: AFP)

ADA satu makhluk di Indonesia yang karier politiknya benar-benar tidak masuk akal. Bukan ketua partai. Bukan menteri. Bukan pengamat televisi yang tiap malam nongkrong di studio sambil mengangguk-angguk seolah baru pulang dari sidang PBB. Makhluk itu adalah… kerbau. Lebih populer dipanggil kebo.

Ya, kerbau. Hewan yang cita-citanya cuma tiga: makan rumput, berendam di lumpur, lalu tidur nyenyak tanpa membaca kolom komentar media sosial. Tapi nasib berkata lain. Di negeri ini, kerbau berkali-kali dipaksa ikut bermain dalam teater politik yang naskahnya ditulis oleh manusia yang terlalu banyak minum kopi dan terlalu sedikit menyentuh rumput.

Masih ingat beberapa tahun lalu? Jakarta pernah menyaksikan demonstrasi yang mengajak seekor kerbau ikut turun ke jalan. Bayangkan betapa bingungnya si kerbau. Mungkin dia mengira sedang diajak pindah kandang. Ternyata sampai lokasi, yang diteriakkan bukan, “Cari rumput!” melainkan yel-yel politik. Sejak hari itu, status kerbau naik drastis. Dari buruh tani menjadi “pengamat politik berkaki empat”. Resume hidupnya langsung lebih keren dari sebagian anggota dewan.

Publik mengira penderitaan kerbau selesai di situ. Ternyata tidak.

Kini muncul episode baru lebih absurd. Kali ini bukan lagi kerbaunya yang diajak demonstrasi, melainkan kepala kerbau yang diinjak. Lokasinya di Lampung, tanah yang selama ini lebih identik dengan gajah. Entah bagaimana ceritanya, gajah lagi santai, kerbau yang malah viral.

Seperti biasa, rakyat Indonesia memiliki bakat bawaan yang tidak dimiliki bangsa lain. Kemampuan membuat tafsir politik dari apa saja. Ada melihat itu sebagai simbol perlawanan. Ada merasa tersinggung. Ada membela mati-matian. Ada pula memilih membuat meme sambil makan gorengan. Bahkan sebelum kepala kerbau selesai dibersihkan, analis politik dadakan sudah bermunculan lebih cepat dari pedagang es teh di depan pasar Pramuka.

Kerbaunya sendiri mungkin kalau bisa bicara cuma akan berkata, “Kalian ini sebenarnya sedang memperjuangkan rakyat atau sedang memperjuangkan hak cipta saya?”

Lucunya, manusia sering memakai kerbau sebagai simbol kebodohan. Padahal kalau dilihat baik-baik, justru kerbau jauh lebih konsisten daripada elite politik. Kerbau tidak pernah pindah kandang karena survei. Tidak pernah mengubah suara karena elektabilitas. Tidak pernah mengaku oposisi pagi hari lalu sore sudah duduk semeja sambil minum kopi.

Kerbau kalau lapar ya makan. Kalau capek ya berendam. Kalau tidak suka ya diam. Bandingkan dengan manusia. Pagi menghina, siang berkoalisi, malam foto selfie sambil tersenyum lebar. Bahkan aplikasi edit foto pun ikut bingung membaca arah angin politik.

Secara ilmiah, kerbau bernama Bubalus bubalis, mamalia pekerja keras dari keluarga Bovidae. Sejak dulu jasanya nyata. Membajak sawah, menarik pedati, menghasilkan susu dan daging. Tidak pernah minta jabatan komisaris setelah selesai bekerja. Satu-satunya kemewahan yang dia nikmati hanyalah mandi lumpur. Itu pun bukan gaya hidup, melainkan kebutuhan karena kulitnya tidak memiliki kelenjar keringat yang memadai. Kerbau berendam demi kesehatan. Manusia berendam dalam drama politik demi trending topic.

Kerbau juga ternyata lebih tertib dari sebagian birokrasi. Ada Kerbau Sungai dengan 50 kromosom yang berasal dari India dan Pakistan, terkenal sebagai penghasil susu kelas dunia. Ada Kerbau Rawa dengan 48 kromosom yang mendominasi Indonesia hingga 95–98 persen populasi dan lebih banyak dimanfaatkan sebagai tenaga kerja serta penghasil daging. Bahkan urusan kromosom saja mereka jelas. Sementara manusia kadang lebih sulit membedakan mana janji kampanye, mana trailer sinetron.

Populasi kerbau Indonesia pun sedang mengalami drama. Tahun 2022 sempat sekitar 1,17 juta ekor, lalu turun tajam pada 2023. Syukurnya tahun 2024 naik lagi menjadi 730.840 ekor. Markas besarnya berada di Nusa Tenggara Timur dengan 68.270 ekor, disusul Sumatera Utara 66.055 ekor, Sulawesi Selatan 64.665 ekor, Aceh 58.456 ekor, dan Jawa Barat 50.140 ekor. Di Sumatera Selatan ada Kerbau Pampangan yang terkenal di rawa Ogan Komering Ilir. Kalimantan Selatan masih menjadi rumah sekitar 12.000–15.000 kerbau rawa, sementara NTT, NTB, dan Sulawesi tetap menjadi wilayah penting bagi keluarga besar bertanduk ini.

Melihat semua itu, rasanya kita harus meminta maaf kepada kerbau. Selama ini manusia terlalu sering menyeret namanya ke panggung politik. Dulu tubuhnya diajak demonstrasi. Sekarang kepalanya dijadikan simbol. Besok entah apalagi. Jangan-jangan suatu hari ada debat capres dengan moderator seekor kerbau, karena setidaknya kerbau tidak pernah memotong pembicaraan, tidak pernah menyebar hoaks, dan tidak pernah mengklaim semua keberhasilan sebagai hasil kerja pribadinya.

Ironisnya, semakin sering kerbau dijadikan alat sindiran politik, semakin terlihat bahwa yang benar-benar menikmati lumpur bukanlah kerbau, melainkan manusia yang setiap musim politik rela berguling-guling di dalamnya.

Penulis: Rosadi Jamani (Jurnalis Senior, Ketua Satu Pena Kalbar)