Kesepakatan itu menjadi bagian dari upaya meredakan ketegangan yang sempat mengganggu lalu lintas pelayaran di salah satu jalur perdagangan energi paling strategis di dunia.
Pemerintah Iran juga menegaskan bahwa kesepakatan tersebut memberikan dasar hukum bagi negaranya untuk menolak keterlibatan militer asing dalam proses pembersihan ranjau di kawasan tersebut.
Pernyataan Baghaei disampaikan tidak lama setelah Presiden Prancis Emmanuel Macron menyebut negaranya siap bekerja sama dengan para mitra internasional dalam upaya membersihkan ranjau di Selat Hormuz.
Langkah itu, menurut Macron, bertujuan menjamin keamanan jalur maritim dan memastikan kebebasan pelayaran tanpa hambatan.
Sebelum MoU ditandatangani, Amerika Serikat bersama sejumlah negara Barat memang telah menyuarakan kekhawatiran mengenai keamanan Selat Hormuz.
Bahkan, beberapa negara sempat menggelar pertemuan militer di Inggris untuk membahas perlindungan jalur pelayaran internasional di kawasan tersebut.
Selat Hormuz kembali menjadi sorotan dunia setelah meningkatnya konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel pada akhir Februari.
Ketika itu, serangan militer terhadap Iran memicu respons Teheran dengan menutup Selat Hormuz, sehingga memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global dan kelancaran perdagangan internasional.[dit]
