-
Melemahnya volume impor minyak mentah dari China.
-
Meningkatnya grafik ekspor dari negara-negara produsen di luar Timur Tengah.
-
Aksi pelepasan cadangan minyak strategis oleh Badan Energi Internasional (IEA).
“Kelompok tujuh negara terus mengurangi pemotongan produksi mereka seperti yang diperkirakan secara luas. Fokus jangka pendek akan tetap pada berapa banyak kapal tanker yang akan berhasil melewati Selat Hormuz dan seberapa cepat permintaan dan impor minyak mentah China pulih,” kata analis UBS, Giovanni Staunovo.
Retaknya Soliditas Internal dan Akhir Era Pemangkasan Produksi
Di balik keputusan ini, OPEC+ sebenarnya tengah menghadapi guncangan internal. Uni Emirat Arab (UEA) secara resmi telah keluar dari aliansi sejak akhir April karena menolak pembatasan kuota demi menggenjot produksi sesuai kapasitas nasional mereka.
Di sisi lain, Irak juga terus menuntut jatah kuota produksi yang lebih besar.
Dari total 21 negara anggota OPEC+ (termasuk Iran), kini praktis hanya tujuh negara inti yang aktif menakhodai kebijakan produksi bulanan, yaitu: Arab Saudi, Rusia, Irak, Kuwait, Aljazair, Kazakhstan, dan Oman.
Ketujuh negara tersebut kini sedang berada dalam fase akhir untuk mengembalikan total pemangkasan produksi sebesar 1,65 juta bph yang disepakati pada tahun 2023 lalu.
Berdasarkan kalkulasi data Reuters, pasca-keluarnya UEA, aliansi inti ini hanya menyisakan sekitar 379.000 bph sisa pemangkasan yang belum dilepas kembali ke pasar.
Jika pada pertemuan lanjutan tanggal 2 Agustus mendatang OPEC+ kembali mengetok palu kenaikan kuota dengan volume yang sama untuk September, maka seluruh kebijakan pemangkasan produksi era 2023 dipastikan berakhir sepenuhnya.
Baca Juga: Pemerintah Kaji Peningkatan Porsi Distribusi Minyakita Melalui BUMN Pangan hingga di Atas 50 Persen
